Untuk Salah Satu Sahabat Terbaik Di Dunia, Muhammad Dirga



“Kau tidak ingin mengucapkan sesuatu untukku?”
“Tentang?”
“Tentang apa saja :)”

Itu sepotong percakapan kita di salah satu status facebookku tadi malam.

***

Adalah kebodohan ketika aku tidak menyadari hari jadi salah satu sahabat terbaikku sendiri. Aku sama sekali tidak menangkap maksud bahwa kau menagih sesuatu lewat kalimat itu semalam, emot senyum di ujung kalimatmu itu memang terasa janggal, tapi aku tetap tidak menyadari apapun.
Ah, aku terlalu sibuk dengan diri sendiri, maafkan aku, :')

Selamat hari jadi yang ke 22, teriring syukur dan banyak doa untukmu. Aku lupa bagaimana pertama kali aku bisa bertemu dan bagaimana caraku mengenal seseorang sepertimu. Tapi setiap mengingatmu, aku selalu berada pada syukurku yang tiada tara karena Tuhan memberikan kesempatan dalam hidupku untuk memiliki seseorang yang ‘tidak biasa’, luar biasa unik, dan istimewa sepertimu. Aku merapal doa dalam sujudku dan menyelipkan namamu dalam setiap doaku, semoga Tuhan selalu menjagamu, karena aku, waktuku, kesempatanku tidak selalu bisa bersamamu sekalipun aku mau setiap waktuku menjadi bagian darimu.

Aku tidak tahu harus melakukan apa untukmu seperti selayaknya seorang sahabat kepada sahabatnya di hari ulang tahunnya, aku bahkan tidak tahu warna favoritmu apa. Yang ku tahu hanya sebatas lagu Radio-nya Sheila On 7 yang kau suka, selebihnya tentang sajak-sajakmu yang kusuka, yang setiap membacanya aku selalu mencuri bahagia dan turut larut di dalamnya.

Jika mungkin, aku ingin menghadiahimu sebuah senja yang indah entah di belahan bumi sebelah mana yang kau belum pernah menemuinya dalam petualanganmu, dengan lantunan lagu-lagu yang sangat kita suka dan menyanyikannya bersama, kemudian membuat sajak paling indah di dunia yang menceritakan tentang kita, tentang aku yang banyak bicara, tentang kamu yang unik luar biasa, tentang kebersamaan kita yang katanya seperti naskah drama, bahwa kita akan tetap sahabat setia walau tanpa keadaan dan waktu yang selalu membuat kita berada di tempat yang sama.

Sekali lagi selamat hari jadi, aku selalu bersyukur memilikimu, menjadi bagian darimu bagaimanapun keadaanmu, tetaplah selalu tampak kuat, berani, penuh semangat juga rasa cinta seperti yang aku selalu lihat di balik tubuh mungilmu itu. Aku ada walau waktuku untukmu semu.

Kamu salah satu yang teristimewa, aku tidak bisa mengertimu, tapi aku sayang kamu selalu… (Inikan kalimat yang kamu mau dengar aku mengulanginya berkali-kali malam itu? :) )






Sajak Biru

Selamat Pagi Biru...

Sajak ini ditulis dari ruang tunggu yang beku
Terkungkung dalam rongga hampa yang kelu

Selamat Pagi Biru...
Kau telah mengacau merah, hijau dan unguku
Bisakah kau segera berlalu?
Sebelum lelah menjadikan siang dan malamku kelabu

Tapi si Biru terus terpaku, semakin kaku
Aku melemah menyaksikannya semakin bisu

Si Biru adalah akuku
Entah dia akan menjadikanku apa dan siapa aku?

Akan Menunggu (Lagi)



Tiga minggu terakhir semesta tampak menciptakan jarak antara aku dan dia, aku larut dalam maklum yang terlalu maklum sampai begitu aku menyadari kami sudah sebegini parah. Dia sudah begitu jauh dan tak lagi tergenggam.
Sudah kuduga ini akan terjadi, kali terakhir bertemu perasaan begitu tak karuan tanpa alasan, tapi kuabaikan. Aku terlalu sibuk jatuh cinta sehingga terlalu istimewa menerjemahkan begitu banyak pertanda yang sebenarnya biasa. Ya, saat jatuh cinta perhatian sekecil apapun akan terasa begitu istimewa.
Aku ingat malam itu, “Aku tidak pernah berniat menggagalkan kita”, itu katamu. Aku masih ingat tatapan matamu malam itu, genggaman tanganmu, aku berusaha percaya walau aku meragu. Hangat namun kelu.
Aku tak pernah jemu menyayangmu, sekalipun aku tak pernah bisa menguraikan satu per satu alasanku.
“Bagaimana aku bagimu? Setidaknya dari penampakan luar atau baik burukku? Menurutku aku bukan orang yang baik”
“Aku tidak bisa menjelaskan itu. Makanya pinjamkan aku buku-bukumu yang banyak itu, aku perlu banyak referensi untuk mengungkapkannya”
“Ayolah, apa? Aku jarang mau tanya beginian ke orang lain”
“Terus kenapa kamu tanyakan hal ini ke aku?”
“Karena kamu penting buatku”
Dia mengeratkan genggamannya pada jemariku. Aku terharu, sebab tidak pernah tau bahwa seistimewa itu arti aku baginya.

***

Saat pulang, seperti biasa dia mengantarku sampai depan gang. Lama dia tidak melepaskan genggaman tanganku setelah ku mencium punggung tangannya. Tak seperti biasa juga, dia memandangku begitu lama, aku masih ingat, sangat ingat.
Nafasku beradu dengan gelisah.
"Ada apa?" tanyaku.
“Tidak apa, kalau-kalau nanti ga bisa ketemu lagi” seraya tersenyum, seperti biasa, penuh tanya.
Aku hanya menatapnya, selalu penuh harap akan ada pertemuan berikutnya.
Saat-saat seperti ini yang selalu aku benci, setiap harus melihatnya berpaling dan menyaksikan punggungnya perlahan menjauh meninggalkanku pulang. Setiap seperti ini dalam hatiku nyaris selalu penuh tanya, “Entah kapan lagi akan mendapatkan kesempatan seperti ini?”  
Waktu bersamanya terlalu berharga buatku, karena aku selalu ingat berapa lama aku menunggu kesempatan ini dan sepenuhnya aku menyadari, aku tidak benar-benar pantas untuk kesempatan ini.

***

Berhari-hari hatiku berusaha memberontak logika, aku berusaha tetap waras diantara keadaan yang gila. Menyibukkan diri agar tetap bisa tetap tertawa, seolah baik-baik saja walaupun sebenarnya kecewa.
“Masalahku ya masalahku. Lebih baik diselesaikan sendiri daripada diumbar cuma dapat perhatian bukan pertolongan”
Itu katamu malam itu. Setelah sekian hari tanpa kabar dan kemudian begitu saja? Tidak tahu kah bagaimana khawatirnya aku?
Aku marah, sangat marah pada diriku sendiri karena tidak bisa menjadi orang yang dapat menjanjikan solusi bagi setiap masalahmu. Kukira kau butuh aku yang sederhana, yang hanya bisa mendengar keluhmu, yang cuma bisa mengusap punggungmu atau menyimpulkan senyum di wajahku ketika kau mengeluh. Bodohnya aku, ternyata kamu butuh seseorang yang lebih dari itu.
Kukira aku dapat menjadi seseorang yang kau percaya untuk membagi duka deritamu, ternyata aku belum seberarti itu, aku begitu kecil sampai kau tak dapat melihat seberapa tulusnya aku menghambakan diri pada kemenerimaanku atasmu.
Sebelumnya lama kubiarkan diriku larut pada kegelapan yang gelap, membiarkan diri sesakit-sakitnya tercabik-cabik kesendirian tanpa mau percaya lagi pada rasa cinta. Sampai suatu ketika aku bertemu denganmu yang begitu sepi, aku datang kepadamu, menjadi tamu bagi rumahmu berharap dapat meramaikan, kau menerimaku dengan baik, memperlakukan selayaknya tamu yang datang dengan niat baik-baik. Namun aku lancang, aku berharap bisa jadi pemiliknya, lebih dari sekedar tamu yang bisa datang dan pergi sesukanya. Aku ingin menjaganya, rumah itu aku ingin jadi yang menjaganya. Tapi ternyata tidak, tanganku begitu kaku dan kakiku begitu berdebu, khawatir aku akan menggores atau mengotori rumah yang kau benahi sekian lama, sehingga kau belum lagi mengizinkan aku melangkah lebih jauh. Langkahku terhenti dan aku berusaha mengerti, kau perlu penjaga terbaik untuk kau tempatkan sebagai pemiliknya. 
Meskipun pernah kukatakan aku menyerah, sebenarnya aku tidak pernah benar-benar menyerah, hanya terkadang aku  merasa sedikit lelah. Aku masih akan menunggu meski akan sangat lama lagi bagimu untuk membukakan pintu sepenuhnya, tidak apa, aku akan lebih banyak berusaha memantaskan diri. Aku yakin suatu hari akan ada hari ketika kau menyambutku dan mempersilakanku masuk sebagai tamu terbaik juga sebagai pemilik satu-satunya disana, rumah itu, hatimu…

Pinta Kala Hujan

Rintik memekik malam di pertengahan februari

Hujan turun lagi dini hari

Derasnya menghambur di antara sepi

Apakah ia juga sama menyambangi tempatmu disana?

Guyurannya menyapa perih dalam dada

Ada apa?

Hilangmu tanpa kata

Sementara aku tak tau dimana aku celanya?

Dukaku tak lagi terkata

Pergimu jadi pelengkap diantara semua part. derita

Sekalipun masih berusaha tampak baik-baik saja

Sudah hari kelima...

Boleh satu ku pinta?

Bisikkan aku sebait kataaa saja

Sebagai peredam luka

Setidaknya rindu ini tak meringkuk dalam bisu

Setidaknya agar rindu ini tak membusuk bersama waktu

Aku tidak bisa menunggu musim hujan reda untuk bisa berjalan ke pelukmu

Jika kau masih terjaga, sudilah kiranya kau baca

Ini sebuah harapan, juga sebuah doa

Mungkin juga sebuah permintaan

Aku tak tahu kau dimana

Semoga kau baik selalu disana

Dan semoga kita bisa kembali seperti sedia kala...

Ingin Kembali



Mendung masih luruh di perempataan bulan Februari ini. Terlalu banyak hal terjadi, terlalu banyak cerita yang tak teryakini dan sudah terlalu banyak yang tersakiti. 


Musim ini terasa lebih lama dari biasa, langit keruh menyimpan dendam, hujan yang turun saban hari tak lagi menjanjikan pelangi.
Aku masih berharap dapat mencuri pelangi dari sudut rimba kelabu yang diguyurkan hujan tanpa permisi.  


Tempat ini seperti biasa, riuh renyah menyapa, keramaian ini dusta, kebahagiaan ini hampa. 


Perjalanan ini terlalu panjang, terlalu banyak bersimpang, ujungnya kemana sama sekali tak lagi terbayang.


Milyaran waktu, jutaan jarak, masih terus menantang, memintaku memainkan banyak peran. Banyak laku dengan ragam cerita dalam setiap adegan yang kumainkan seakan aku baik-baik saja. Banyak bahasa kutempa dalam setiap kata yang terkata seakan aku selalu berbahagia. Banyak jejak kutinggalkan dalam setiap yang mereka pinta seakan aku masih kuat bertahan. Berporos dari sandiwara satu ke sandiwara lainnya, berpaling dari panggung satu ke panggung lainnya. 


Siapa yang sangka bahwa sebenarnya yang bergerak hanya raga, dalamnya sudah terlalu lama hampa, pura-pura. Semakin lama semakin hampa, semakin banyak berkata semakin banyak dusta, semakin banyak melangkah semakin banyak lelah, semakin banyak luka semakin banyak juga derita.


Tuhan tolong… 

Lelah sekali seperti ini


Tuhan tolong…

Menyedihkan sekali disini


Tuhan tolong…

Aku lupa jalan kembali


Tuhan tolong…

Kemana hatiku pergi?


Tuhan tolong…

Kemana aku harus kembali?


Tuhan tolong…

Segera usaikan ini 


Tuhan tolong…

Kehatinya aku ingin kembali…




 "Telah letih langkahku dan terasa berat. Cukup banyak kesalahan kubuat. Di mimpiku kudengar bunyi suaramu, yang memanggilku pulang ke dalam hatimu. Karena hanyalah hatimu, rumah terindah..." 
(Shera – Pulang ke Hatimu)

Stop Bullying dalam rumah Tangga!



Beberapa waktu terakhir rasanya malas sekali menonton tv, bahkan hanya untuk sekedar melihat iklannya saja. Kabar yang disuguhkan dari hari ke hari melulu mengenai kemerosotan mental anak bangsa. Salah satu perwujudannya dapat kita lihat dengan maraknya berkoar mengenai kasus bullying, baik di media cetak, media elektronik maupun dalam pembicaraan sehari-hari. Sedih, gerah, greget, prihatin, setidaknya itu yang saya rasakan setiap kali menyimak kejadian semacam ini terus berulang-ulang. Mungkin sebagian orang masih belum tahu apa sih bullying? 


Bullying  sendiri memang berasal dari bahasa Inggris yaitu “Bully” yang menurut beberapa sumber yaitu suatu kata yang mengacu pada pengertian adanya “ancaman” yang dilakukan seseorang terhadap orang lain yang umumnya lebih lemah atau “rendah” dari pelaku (Dr. Dian P. Aldilla, Psi).  Atau secara singkat saya menyimpulkan bullying serupa dengan kekerasan atau penganiayaan. Beberapa kasus yang bullying yang beredar di tv atau majalah-majalah selama ini kebanyakan membahas mengenai bullying yang terjadi di sekolah dan di tempat kerja.  Sebenarnya bullying bisa terjadi dimana-mana, bisa di sekolah, di lingkungan kerja, di lingkungan sekitar, bahkan di rumah tangga lho… Bahkan di situs pencarian populer pun saya cari sangat sedikit yang membahas mengenai bullying dalam rumah tangga. 


Karena saya sendiri tumbuh dan besar dalam lingkungan keluarga besar. Maka disini saya akan mencoba membahas mengenai bullying dalam rumah tangga melalui sudut pandang saya. Bagaimana sih bullying dalam rumah tangga itu? 


Secara umum terdapat 3 jenis bullying, yaitu:


1. Fisik
   Bullying secara fisik dilakukan dengan menyakiti fisik si korban sehingga dapat meninggalkan luka. Bisa dengan memukul, menampar, bahkan kasus yang baru-baru terdengar sampai ada yang tega membakar hidup-hidup anggota keluarganya sendiri, dll.

2. Verbal
   Bullying secara verbal memang tidak meninggalkan luka pada fisik, tetapi dilakukan dengan menyakiti perasaan si korban. Misalnya mengejek kelemahan si korban, dll.

3. Psikologis
   Bullying  jenis ini juga tidak menyakiti dan meninggalkan bekas pada fisik, namun menyerang langsung pada psikologis atau batin si korban. Misalnya memfitnah, mempermalukan, mengucilkan, dll.

Bullying dalam rumah tangga rentan sekali terjadi, bisa dilakukan oleh suami kepada istri, orang tua kepada anak, kakak kepada adik, dan kemungkinan besar dilakukan oleh orang yang lebih kuat dan lebih dominan di rumah.


Beberapa contoh dapat kita lihat di bawah ini:


1.    Ayah memukuli Andi karena telat pulang ke rumah setelah keasyikan bermain. Ini sudah dapat kita kategorikan dalam bullying secara fisik.
2.   Kakak mengancam akan memukuli adiknya jika adiknya melaporkan kepada Ayah bahwa kakaknya ketahuan merokok. Ancaman merupakan bullying secara psikologis karena dapat menyebabkan tekanan batin dan ketakutan kepada si korban.
3.   Ayah membanding-bandingkan adik yang bandel dengan kakaknya yang lebih rajin dan taat. Sepele memang kelihatannya, tapi sebenarnya itu dapat menyakiti perasaan si adik, ini tergolong dalm bullying secara verbal. Sebab, setiap orang ingin di kenal sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai orang lain dan ini menyakitkan.
4.   Suami memaki-maki istri karena tidak bisa mengurus anak, padahal mengurus anak adalah tanggung jawab bersama, perceraian, hal ini juga termasuk bullying dalam rumah tangga, dsb.


Sekarang kita sudah tau beberapa contoh bullying yang terjadi dalam rumah tangga. Bisa jadi tanpa sadar selama ini mungkin kita pernah menjadi salah satu pelakunya, bahkan mungkin sekarang pun mungkin masih.
Adanya orang yang yang lebih dituakan dan yang lebih muda, ada ayah, ibu, kakak dan adik bukanlah sebagai alasan untuk saling membuktikan kekuatan masing-masing. Bukan juga sebagai alasan siapa yang harus paling didengarkan dan siapa yang harus mendengarkan, tapi untuk saling memahami, lebih menyayangi, menjaga, memperhatikan tentu saja dengan cara yang baik. 


Mari kita lebih mendewasakan diri, menggunakan emosi, kemarahan dan kekerasan sebagai cara untuk membuat anggota keluarga kita agar taat dan mengerti maksud yang ingin kita sampaikan bukanlah cara terbaik. Itu hanya akan memperburuk situasi. Pelaku bulying diluar sana adalah korban bullying itu sendiri di rumah tangganya. 


Setiap masalah hadir dengan ribuan jalan keluar yang baik, jadi jangan sampai menggunakan jalan yang buruk, semua tergantung bagaimana cara kita menemukan jalan itu. Keluarga adalah segalanya. Keluarga adalah rumahmu, tempat terbaik untuk kembali. 


Mari mulai sekarang kita bersama-sama memutus mata rantai bullying dimanapun. Semua berawal dari diri sendiri, rumah tangga, keluarga, lingkungan terkecil kita. Semoga kita menjadi manusia yang berpikir dalam bertindak dan tidak mudah menurutkan hawa nafsu dan emosi. Semoga hati kita selalu diberi kedamaian oleh Tuhan. Aamiin…



Bagi yang pernah punya pengalaman mengalami sendiri, pernah melihat atau bisa memberikan beberapa contoh lain kasus bullying yang terjadi dalam rumah tangga, share bareng yuk! ^_^





Sumber : 
http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/01/bullying-apaan-tuh-443317.html
http://www.google.com/imgres?um=1&hl=id&client=firefox-a&tbo=d&rls=org.mozilla:id:official&biw=1366&bih=584&tbm=isch&tbnid=_zSFOmqoPa8sCM:&imgrefurl=http://www.stopschoolbullyingnow.com/&docid=nZ48Ph0P4hdfuM&imgurl=http://www.stopschoolbullyingnow.com/images/home-photo3.jpg&w=245&h=198&ei=H4ISUerDIMrRrQfU64GQCA&zoom=1&ved=1t:3588,r:43,s:0,i:215&iact=rc&dur=7&sig=102531323382794393998&page=3&tbnh=158&tbnw=196&start=38&ndsp=20&tx=113&ty=76