Ketika Aku Menyesali Telah kehilangannya (Mama Agus In Memoriam)


Rasanya seperti mimpi, hari itu baru sehari berselang sejak kepulanganku ke kampung halaman yang terakhir. Pukul 5, tidur soreku dikejutkan oleh sebuah SMS yang masuk ke handphone bututku hari itu, dari nomor jauh, tumben sekali Ulak2 Jakarta SMS saat-saat seperti ini.

“Innalillahi wa innailaihi rojiun, turut berduka cita atas meninggalnya mbah Ayu”

Astagfirullah, aku terduduk, badanku gemetar, aku masih mencoba mencerna kalimat yang baru saja kubaca, terus ku baca berulang-ulang tapi aku tidak tau harus berbuat apa.

“Mbah? Mbah yang mana? Mbah Lanang3 sehat kok, mbah yang mana lagi? Masa Mama Agus? Mama kan sudah sehat habis keluar dari rumah sakit?” Aku meracau sendiri sekalipun masih berusaha mengendalikan diri.

Aku menelpon Ibu tapi tidak ada jawaban, Ayah juga, Bibi juga, aku mulai kacau, sampai Angga, sepupuku mengangkat teleponku, aku mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.

“Tadi ulak sms, katanya mbah meninggal? Mbah yang mana? Kok aku nggak dikasih kabar? Kok malah duluan yang di Jakarta tau?”

“Mama Agus pang4

“Ya Allah Mamaa, kenapa meninggal? Mama kan sudah sehat? Mamaa?”


Aku meraung lepas kendali, Angga mematikan teleponku. Tangisku makin menjadi tenggelam dalam kamar kostku, teman-teman kos ku terhenyak, beberapa diantaranya berusaha menenangkanku. Sama sekali tak tenang, pada saat terakhir aku tidak bisa melihat bahkan menemani beliau. Jarak antara kota Banjarmasin tempatku kuliah sekarang harus ditempuh dengan waktu 6-7 jam, lagi pula sudah pukul 5, aku harus cari taksi dimana? Adik laki-lakiku bagaimana di Banjarbaru? Apa sudah ada yang ngasih kabar?

Aku menelponnya “Bang, udah tau kalau Mama Agus meninggal?”

Yoga tergagap di ujung sambungan telepon “Jangan bercanda kamu!”

“Mbak serius bang”

 Telepon mati tutt tuuuttt tutttt

Sebuah pesan masuk dari Yoga.

“Mbak, kita pulangan yok?”

“Mana ada taksi jam segini? Kalau bisa pulang juga paling nggak sempat nemuin Mama juga”


Aku menunggu, tapi tidak ada balasan lagi.

Aku tau dia akan sangat terpukul, dia cucu kesayangan Mama.

***

5 hari sebelumnya, pada hari selasa Mama masuk rawat inap di Puskesmas terdekat karena susah makan dan tidur, dari dokter di diagnosis Mama mengidap penyakit jantung dan paru-paru.

Mama terlalu pendiam, beliau nyaris tidak pernah mengeluh sesakit apapun, sampai anak-anak beliau ingin membawa rawat inap di RSUD saja beliau menolak. Itulah mama, sosok tenang yang nyaris seperti tanpa masalah, didalamnya siapa yang sangka?

Pada hari Rabu aku pulang kampung dan menunggui beliau di tempat rawat inap sampai beliau diizinkan Dokter pulang pada hari Sabtu. Seenak-enaknya tinggal di rumah sakit, di kasih makan, nggak ngapa-ngapain tetap aja nggak betah, orang sehat pun terasa sakit pada saat-saat seperti ini.

Aku menyuapi beliau supaya mau makan, tapi beliau tidak bisa makan karena banyak sariawan. Aku mencarikan minyak kayu putih bergambar gajah favorite beliau, mengajak beliau bercanda, beliau berusaha tersenyum walau tampak lebih diam dari biasa, dan yang paling kuingat dan tidak pernah bisa lupa adalah ketika pertama kalinya aku menggantikan baju Mama pada hari terakhir Mama dirawat. Ya ini pertama kalinya seumur hidup setelah sekian lama di masa kecilku Mama menggantikan bajuku, bahkan sampai aku MTs. Karena kebandelanku aku harus pergi dari rumah orang tua dan harus tinggal di rumah Mama, beliau masih sesekali mencucikan bajuku.

Aku tidak pernah memikirkan kali itu akan jadi yang pertama dan yang terakhir aku menggantikan pakaian Mama. Ah, andai waktu boleh kuputar kembali, aku ingin menggantikan baju mama setiap hari, ratusan hari, selama-lamanya selama aku bisa, sungguh aku ingin waktu itu datang lagi, aku ingin menebus semua, aku ingin membahagiakan beliau lebih dari yang beliau dapatkan selama ini.

Sabtu mama keluar dari RS, aku banyak bersyukur, mama makan banyak hari itu, Mama makan Nasi Pundut5 hari itu, mama tampak sangat sehat, akupun lega, aku berpamitan karena Minggu siang aku harus kembali ke Banjarmasin. Saat melihat Mama perasaanku sama seperti terakhir kali melihat almarhumah Mbah Yut6 sebelum meninggal, seperti akan melihat yang terakhir kali. Tapi ku abaikan, aku masih ingin lagi, lagi dan terus lagi melihat beliau. Ku pikir, ah ini mungkin hanya perasaanku saja, walau pada akhirnya semuanya benar iya adanya.

Padahal sebelum kepulanganku, aku sempat menanyakan kabar Mama pada Bibi Agus untuk lebih meyakinkan diri untuk kembali ke Banjarmasin, karena bibi yang masih serumah dengan Mama dan Mbah lanang. “Mama gimana Bi? Udah baikan?”

“Iya, makannya banyak, udah nggak apa-apa kok?”

Aku lega, paling tidak aku bisa meninggalkan beliau kembali ke Banjarmasin dengan tenang.

Dan hari itu berlalu begitu saja tanpa prasangka apa-apa. Sampai kabar kepergian beliau kudengar keesokan harinya.

***

Tepat pada hari ke 100 meninggalnya beliau aku baru bisa pulang kampung menengok makam beliau. Dalam 100 hari itu juga beliau berkali-kali hadir dalam mimpiku, dengan wajah sendu, hanya diam tapi raut wajahnya seperti berbicara. Di mimpi yang lain nenek menunjuk sebuah pohon mawar yang aku tahu itu adalah bunga favorit beliau, masih tanpa bicara. Kata orang kalau keluarga yang sudah meninggal hadir di mimpi tapi tidak berbicara berarti mimpi itu benar, tapi kalau berbicara berarti datangnya dari Iblis, entahlah. Yang jelas aku melihat wujud beliau dengan sangat jelas di mimpiku waktu itu.

Bahkan sampai hari ini, saat aku mengenang beliau lewat tulisan ini, sudah melewati waktu nyaris 1 tahun 4 bulan, saat itu beliau meninggal pada bulan Februari 2012. Namun rasanya Mama masih ada sampai saat ini.

Aku masih sering menyebut rumah Mbah sebagai rumah ‘Mama Agus’, terkadang rasanya saat tidur di kamar tengah aku masih melihat Mama tidur meringkuk tanpa selimut seperti biasanya, saat hujan juga terkadang aku masih membayangkan Mama duduk termenung di kursi ruang tamu dengan diam, pagi-pagi juga aku masih terbayang Mama yang sudah siap dengan nasi gorengnya di dapur, melihat mama bersandar sambil melipat tangan ke belakang, melihat Mama mengurut bayi-bayi tetangga dengan penuh kasih sayang, aku masih merasakan hangatnya ketika Mama meletakkan selimut di atas tubuhku ketika aku tertidur, aku juga sangat ingat bagaimana bencinya Mama ketika kami cucu-cucunya dimarahi atau dipukuli orangtua kami, Mama juga tidak pernah mau bicara lama ditelpon denganku, hanya beberapa detik saja, karena setiap bicara ditelpon denganku suara Mama selaulu bergetar seperti akan menangis, selalu bergetar hati ini ketika mengenang suara lembut Mama menasehati kami, memanggil kami, ketika sedih, senang, marah nada bicara Mama selalu sama lembutnya, semuanya masih terasa hangat dalam ingatan, semuanya tak satupun aku melewatkannya.

Bukan hanya dengan keluarga, dengan anak orang lain pun beliau sangat lembut dan penyayang. Sungguh beliau adalah wanita yang sangat luar biasa.

Wanita paling lembut dunia, iya, cuma Mama. Ibuku, aku, semua cucu dan anak-anak beliau belajar dari beliau. Mama bukan hanya berkesan mendalam bagi kami keluarga besar, namun juga bagi tetangga, semua orang menangisi beliau ketika beliau meninggal.

Kata Ibu, waktu pemakaman Mama, banyaak sekali tamu yang hadir melayat dan mengantarkan Mama ke peristirahatan terakhir beliau. Hal itu cukup menandakan betapa Mama disayangi semua orang. Bahkan pada acara haul Mama yang pertama, selain kami keluarga yang ditinggalkan, tetangga yang datang pun masih banyak yang meneteskan air mata karena mengenang beliau.

Anganku tak pernah habis tentang Mama, aku menyimpan salah satu sweater kesayangan Mama, ketika rindu, memakai sweater itu rasanya hangat sekali, seperti memeluk Mama erat ketika akan tidur dan aku takut mendengar bunyi suara burung hantu dulu.

Sungguh setelah kematian Mama, sesalku tidak pernah habis akannya. Setiap berada di pasar, dimanapun aku bertandang aku selalu terkenang Mama. Rasanya ingin membelikan jilbab, baju, makanan yang enak-enak, semuanya yang bisa aku belikan untuk Mama, aku ingin mengajak Mama ke semua tempat yang menyenangkan, ke Jakarta, Bandung, Mekkah, semua tempat yang mungkin kujelajahi, sebagai wujud kasih sayangku untuknya, sebagai wujud betapa bersyukurnya aku karena memiliki beliau, yang sayangnya semua itu tidak pernah kulakukan selama Mama hidup. Satu kalipun aku tidak pernah membelikan dan memberikan Mama apapun, bahkan waktuku untuk beliau pun tidak dapat selalu terpenuhi. Andai mungkin, aku ingin kembali ke masa itu, dan kulakukan semua yang mungkin kulakukan untuk Mama.

Sekarang, tiap kali pulang kampung, aku hanya dapat menemui nisan Mama, bercerita banyak di atasnya, membacakan doa berharap doa-doaku dapat menemaninya dialam sana. Semoga Mama selalu diberi kelapangan dan cahaya terang dikubur beliau. Semoga Mama selalu disayang Allah seperti Mama menyayangi kami selama ini.

***

Waktu manusia siapa yang tahu? Andai maut itu ada baunya, paling tidak kita bisa mempersiapkan diri untuk kehilangan atau membuat orang lain kehilangan. Tapi disitulah letak hikmahnya, bukannya lebih bagus dengan ketidaktahuan begini? Sebab seharusnya kita bisa menghargai setiap waktu dan kesempatan yang hadir untuk bersama orang-orang yang kita cintai, orang-orang yang kita ingin hidup bersamanya. Namun justru sering kali ketidaktahuan inilah yang pada akhirnya menjauhkan karena merasa memiliki banyak waktu lain yang tersisa, walaupun sebenarnya tidak demikian. Kemudian kita bisa menjadikan kesibukan tetek bengek kehidupan lain yang sebenarnya bisa di kesampingkan untuk sekedar menemani Mama belanja, menemani Ayah berkebun, menemani kakek nonton bola, berdiskusi dengan kakak, membantu adik mengerjakan PR, menemani nenek memasak, dll.

Siapa tahu minggu depan, besok hari bahkan satu jam lagi kita tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya? Mungkin kita yang akan lebih dulu menyelesaikan permainan hidup ini, mungkin juga justru kita yang akan meratapi orang-orang yang kita cintai mengakhirinya terlebih dahulu, siapa yang tahu?

Lalu sekarang tunggu apalagi? Bila ada handphone di sebelahmu yang lebih sering kamu pakai twitteran dari pada menelpon menanyakan kabar rumah, ambil sekarang teleponlah ayahmu, ibu atau siapapun yang mencintaimu dalam diam, tanpa kata yang disampaikannya dengan sengaja. Siapa tahu mereka sedang sakit, sedang bersedih, menghadapi masalah yang tidak terperi tapi tidak mengatakannya kepadamu. Bukan bermaksud membuatmu tak berarti, bukan berarti mereka tak sayang, tapi mereka membayangkan betapa sibuknya kamu mengerjakan tugas-tugas dan berjuang untuk hidup dan mereka tidak ingin mengganggu bahkan membebanimu dengan cerita-cerita mereka, walaupun keadaan sebenarnya kita lebih banyak jalan-jalannya dan tertawa-tawa berlagak sok kaya dan berhura-hura.

“Kau takkan pernah tau apa yang kau miliki sampai nanti kau kehilangan” (Percayakan Padaku - Sheila On 7)


 

***

Keterangan :
Mama Agus1         :    Panggilan sayang dari cucu-cucu untuk nenek dari keluarga Ibu
Ulak2                   :     Panggilan untuk Kakak dari Ayah dalam bahasa Banjar
Mbah Lanang3     :    Panggilan untuk Kakek dari keluarga Ibu dalam bahasa Jawa
Pang4                   :    Imbuhan pada akhir kalimat dalam bahasa banjar, seperti ‘deh’ dalam bahasa Indonesia
Nasi Pundut5       :    Makanan Banjar berbentuk nasi yang dibungkus dalam daun dan dimasak dengan santan
Mbah Yut6              :    Nenek buyut, Ibu dari Nenek keluarga Ibu, dalam Bahasa Jawa


Sepotong Puzzle yang Kutemukan (Kembali)

Hari itu setelah midtest Persamaan Differensial, mata kuliah yang membuat aku mengoleksi nilai E untuk pertama kali selama hidup tahun lalu dan aku harus mengulangnya pada semester ini dengan dosen yang sama.

Frustasi luar biasa karena tidak bisa menjawab dengan baik, semua jawaban yang kutulis di lembar jawaban meragukan. Keluar dari Bengkel Matematika, tempat ujian, aku segera menggeledah tasku berusaha menemukan androidku dan segera menelpon Ibuku. Selama ujian ada 13 kali telpon dari Ibu, Bibi dan Adik karena ada masalah keluarga mendadak, salah satu alasan kehilangan konsentrasi. Juju menutup kaca helmku karena aku menangis di parkiran belakang kampus PMIPA.

Memang, hari itu luar biasa stress makanya kami memutuskan untuk karaokean ke tempat karaoke langgananku di Kayu Tangi Ujung, namun ruangan yang small penuh dan harus menunggu lama. Kami memutar haluan ke TSar café langgananku di sekitaran Jl. Adenansi, aku lupa karena hari itu hari Jum’at maka café baru buka pukul 5 sore, sementara jam baru menujukkan pukul 4.30, akhirnya dengan sangat nekad dengan mengabaikan tarif weekend yang yakin akan lebih dari biasa, kami langsung menuju Nav Karaoke Keluarga Jl. A. Yani. Km. 2,4.

Aku sedang mengutak atik androidku seperti biasa, setiap saat setiap ada waktu, hari itu di kursi tunggu Nav, karena ruangan juga penuh dan kami harus menunggu 10 menit. Tempat karaoke ini adalah tempat langganan sahabatku, Juju dan teman-temannya, aku sendiri jarang ke tempat ini, karena lokasinya yang agak jauh dari kost.

Aku memperhatikan orang-orang berseragam orange yang lalu lalang di hadapanku, mataku liar berharap menemukan sesosok pria dari masa lalu yang barang kali hari itu berada diantaranya. Bukan tanpa alasan, beberapa bulan lalu mendadak aku mendapat titipan salam dari dua teman seangkatanku di Pendidikan Matematika, Mitra dan Atul. Kala itu aku mendapatkan sebuah mentions dari Mitra, katanya aku dapat salam dari Adi, salah satu karyawan disana. Usut punya usut ternyata benar, Adi Surya, potongan masa lalu, rekor terlama hubunganku, nyaris 2 tahun berlalu. Mitra memberikan nomor hapenya, namun aku tidak berhasil menghubunginya, terakhir kuketahui nomornya sudah tidak aktif.

Lamunanku dikejutkan oleh sesosok pria tidak terlalu tinggi, putih, mengenakan baju bola warna merah, aku tidak terlalu memperhatikan tim apa, mungkin Arsenal tim favoritnya, melalui pintu masuk dan kemudian menyapa beberapa pria yang juga duduk menunggu beberapa langkah di hadapanku. Aku tergagap, badanku bergetar, aku memukuli Juju yang duduk di sebelahku, aku berusaha meyakinkan diri apa yang kulihat ini benar atau aku hanya terlalu banyak berhalusinasi, sampai beberapa temannya meneriakkan namanya dan kemudian aku tahu, aku tidak sedang bermimpi. Ya, semesta menginginkan akhirnya aku bertemu lagi dengannya hari itu, Adi.

Aku memandangi gelagatnya dengan teman-temannya, suasana hatiku begitu kacau, dia melihat ke arahku dengan ragu berkali-kali, dia lalu lalang dihadapanku namun tidak berusaha menyapaku, bodohnya aku hanya bisa terdiam, sama sekali tidak tahu harus berbuat apa.

Aku meneriakkan namanya, melangkah ke arahnya, menyalaminya, tersenyum dengan penuh kemenangan dan menunjukkan kepadanya betapa sekarang aku sangat baik-baik saja.  Namun itu hanya khayalanku saja, pada kenyataannya aku masih duduk di sofa putih ini, di sebelah Juju dan tergugu menyaksikan sepotong puzzle masa lalu yang berdebu nampak utuh lagi di hadapanku.

Adi adalah seseorang yang sangat kucintai, kujaga hatinya, iya tapi itu dulu dan sudah berakhir sejak September 2010 lalu, di usia hubungan ke 1,5 tahun, rekor terlamaku dalam menjalin hubungan. Dia salah satu yang teristimewa, dia pria baik, terlalu banyak yang dia berikan dan dia korbankan untukku, sampai akhirnya dia lelah dan memilih berproses di belakangku dengan yang lain. Pada masa itu aku masih terlalu anak-anak, aku bukan pasangan yang baik, J

Aku larut lagi dalam lamunanku, sampai mendapat panggilan karena ruangan kami sudah siap, kemudian aku naik ke lantai dua dengan Juju dengan diantar seorang  petugas.

“Boleh tanya nggak?” tanyaku.
“Iya silakan”
“Adi itu sudah lama kerja disini?”
“Malah udah nggak kerja disini lagi Mbak, baru aja kok berentinya”
“Oh, kirain masih”

Ternyata hari ini dia datang sebagai tamu, sudah bukan sebagai karyawan lagi. Pantas saja beberapa kali belakangan aku kesini dan aku tidak berhasil menemukannya. Hatiku sama sekali tidak puas karena tidak berhasil menyapanya dan aku tidak yakin setelah ini aku akan bertemu denganya lagi, bodohnya aku melewatkan kesempatan itu.

Aku meluapkan segala sesak, gundah hatiku dengan menyanyi semua lagu yang mengingatkan dengannya, Juju hanya menikmati teriakan demi teriakanku dalam setiap lagu, selama dua jam. Dia tahu perasaanku.

Aku mencoba dan berhasil menghubungi kak Dayat lewat facebook, salah satu teman dekat kak Adi yang ku kenal saat masih pacaran dulu. Sebenarnya setahun lalu aku dan Adi sempat mencoba berhubungan baik lewat facebook, namun kekasihku yang baru menghapusnya dari pertemanan, sampai kemudian sama sekali lost contact dengan Adi.  

Keesokan harinya aku sudah mendapatkan nomor Adi dari kak Dayat, thanks so much for that!

Aku menghubunginya, dia membalas pesanku, kami bicara banyak, dari kabar, kuliah, pekerjaan, peristiwa di karaoke itu, saling meminta maaf, kecuali satu hal, pasangan, entah apa dia masih dengan wanita yang merebutnya dariku itu atau tidak, sementara aku walapun masih sendiri namun hatiku telah terikat dengan jiwa yang lain :)

Di salah satu pesan aku meminta satu kali pertemuan lagi, entah untuk apa, akupun tidak mengerti maunya hati ini. Aku hanya ingin bertemu, menanyakan semua yang ingin kutanyakan, mengetahui semua kabarnya, itu saja, selama nyaris dua tahun ini tanpa kabar yang jelas.

Ini kutipan beberapa percakapan:

Adi    :     “Hehehehe . . . Alhamdulillah bisa ketemu lagi . . “
Aku   :     “handak lagi, sekaliii ja lagi ;p”
Adi    :     “Hehehehe . . . InsyaAllah pasti ketemu lagi nanti . . Ulun belum siap mental”
Aku   :     “hahaa pian ni lucu, handak ketemu ulun ja kayak handak UN pakai kada siap mental segala, lagian udah hanmpir 2 tahun lewat :p “


Hanya itu saja, setelah itu tidak ada pesan-pesan di hari selanjutnya. Apa aku tampak baik-baik saja? Haha, bukan hanya tampak, tapi aku benar baik-baik saja, aku menyayanginya sungguh tapi itu dulu. Melihatnya lagi sekarang aku senang, dia tampak baik-baik saja, badannya agak gemukan, juga lebih putih dari dulu, dia tampak ceria, Alhamdulillah.

Sekarang aku dan dia sudah berada di jalan masing-masing, berbahagia dengan apa yang dimiliki. Dia banyak berperan dalam hidupku, aku selalu berdoa semoga Allah memberikannya hidup dan pasangan yang terbaikku, untuknya juga  dan semoga Allah selalu menjaga kita. :)


Untuk Salah Satu Sahabat Terbaik Di Dunia, Muhammad Dirga



“Kau tidak ingin mengucapkan sesuatu untukku?”
“Tentang?”
“Tentang apa saja :)

Itu sepotong percakapan kita di salah satu status facebookku tadi malam.

***

Adalah kebodohan ketika aku tidak menyadari hari jadi salah satu sahabat terbaikku sendiri. Aku sama sekali tidak menangkap maksud bahwa kau menagih sesuatu lewat kalimat itu semalam, emot senyum di ujung kalimatmu itu memang terasa janggal, tapi aku tetap tidak menyadari apapun.
Ah, aku terlalu sibuk dengan diri sendiri, maafkan aku, :')

Selamat hari jadi yang ke 22, teriring syukur dan banyak doa untukmu. Aku lupa bagaimana pertama kali aku bisa bertemu dan bagaimana caraku mengenal seseorang sepertimu. Tapi setiap mengingatmu, aku selalu berada pada syukurku yang tiada tara karena Tuhan memberikan kesempatan dalam hidupku untuk memiliki seseorang yang ‘tidak biasa’, luar biasa unik, dan istimewa sepertimu. Aku merapal doa dalam sujudku dan menyelipkan namamu dalam setiap doaku, semoga Tuhan selalu menjagamu, karena aku, waktuku, kesempatanku tidak selalu bisa bersamamu sekalipun aku mau setiap waktuku menjadi bagian darimu.

Aku tidak tahu harus melakukan apa untukmu seperti selayaknya seorang sahabat kepada sahabatnya di hari ulang tahunnya, aku bahkan tidak tahu warna favoritmu apa. Yang ku tahu hanya sebatas lagu Radio-nya Sheila On 7 yang kau suka, selebihnya tentang sajak-sajakmu yang kusuka, yang setiap membacanya aku selalu mencuri bahagia dan turut larut di dalamnya.

Jika mungkin, aku ingin menghadiahimu sebuah senja yang indah entah di belahan bumi sebelah mana yang kau belum pernah menemuinya dalam petualanganmu, dengan lantunan lagu-lagu yang sangat kita suka dan menyanyikannya bersama, kemudian membuat sajak paling indah di dunia yang menceritakan tentang kita, tentang aku yang banyak bicara, tentang kamu yang unik luar biasa, tentang kebersamaan kita yang katanya seperti naskah drama, bahwa kita akan tetap sahabat setia walau tanpa keadaan dan waktu yang selalu membuat kita berada di tempat yang sama.

Sekali lagi selamat hari jadi, aku selalu bersyukur memilikimu, menjadi bagian darimu bagaimanapun keadaanmu, tetaplah selalu tampak kuat, berani, penuh semangat juga rasa cinta seperti yang aku selalu lihat di balik tubuh mungilmu itu. Aku ada walau waktuku untukmu semu.

Kamu salah satu yang teristimewa, aku tidak bisa mengertimu, tapi aku sayang kamu selalu… (Inikan kalimat yang kamu mau dengar aku mengulanginya berkali-kali malam itu? :) )






Sajak Biru

Selamat Pagi Biru...

Sajak ini ditulis dari ruang tunggu yang beku
Terkungkung dalam rongga hampa yang kelu

Selamat Pagi Biru...
Kau telah mengacau merah, hijau dan unguku
Bisakah kau segera berlalu?
Sebelum lelah menjadikan siang dan malamku kelabu

Tapi si Biru terus terpaku, semakin kaku
Aku melemah menyaksikannya semakin bisu

Si Biru adalah akuku
Entah dia akan menjadikanku apa dan siapa aku?

Akan Menunggu (Lagi)



Tiga minggu terakhir semesta tampak menciptakan jarak antara aku dan dia, aku larut dalam maklum yang terlalu maklum sampai begitu aku menyadari kami sudah sebegini parah. Dia sudah begitu jauh dan tak lagi tergenggam.
Sudah kuduga ini akan terjadi, kali terakhir bertemu perasaan begitu tak karuan tanpa alasan, tapi kuabaikan. Aku terlalu sibuk jatuh cinta sehingga terlalu istimewa menerjemahkan begitu banyak pertanda yang sebenarnya biasa. Ya, saat jatuh cinta perhatian sekecil apapun akan terasa begitu istimewa.
Aku ingat malam itu, “Aku tidak pernah berniat menggagalkan kita”, itu katamu. Aku masih ingat tatapan matamu malam itu, genggaman tanganmu, aku berusaha percaya walau aku meragu. Hangat namun kelu.
Aku tak pernah jemu menyayangmu, sekalipun aku tak pernah bisa menguraikan satu per satu alasanku.
“Bagaimana aku bagimu? Setidaknya dari penampakan luar atau baik burukku? Menurutku aku bukan orang yang baik”
“Aku tidak bisa menjelaskan itu. Makanya pinjamkan aku buku-bukumu yang banyak itu, aku perlu banyak referensi untuk mengungkapkannya”
“Ayolah, apa? Aku jarang mau tanya beginian ke orang lain”
“Terus kenapa kamu tanyakan hal ini ke aku?”
“Karena kamu penting buatku”
Dia mengeratkan genggamannya pada jemariku. Aku terharu, sebab tidak pernah tau bahwa seistimewa itu arti aku baginya.

***

Saat pulang, seperti biasa dia mengantarku sampai depan gang. Lama dia tidak melepaskan genggaman tanganku setelah ku mencium punggung tangannya. Tak seperti biasa juga, dia memandangku begitu lama, aku masih ingat, sangat ingat.
Nafasku beradu dengan gelisah.
"Ada apa?" tanyaku.
“Tidak apa, kalau-kalau nanti ga bisa ketemu lagi” seraya tersenyum, seperti biasa, penuh tanya.
Aku hanya menatapnya, selalu penuh harap akan ada pertemuan berikutnya.
Saat-saat seperti ini yang selalu aku benci, setiap harus melihatnya berpaling dan menyaksikan punggungnya perlahan menjauh meninggalkanku pulang. Setiap seperti ini dalam hatiku nyaris selalu penuh tanya, “Entah kapan lagi akan mendapatkan kesempatan seperti ini?”  
Waktu bersamanya terlalu berharga buatku, karena aku selalu ingat berapa lama aku menunggu kesempatan ini dan sepenuhnya aku menyadari, aku tidak benar-benar pantas untuk kesempatan ini.

***

Berhari-hari hatiku berusaha memberontak logika, aku berusaha tetap waras diantara keadaan yang gila. Menyibukkan diri agar tetap bisa tetap tertawa, seolah baik-baik saja walaupun sebenarnya kecewa.
“Masalahku ya masalahku. Lebih baik diselesaikan sendiri daripada diumbar cuma dapat perhatian bukan pertolongan”
Itu katamu malam itu. Setelah sekian hari tanpa kabar dan kemudian begitu saja? Tidak tahu kah bagaimana khawatirnya aku?
Aku marah, sangat marah pada diriku sendiri karena tidak bisa menjadi orang yang dapat menjanjikan solusi bagi setiap masalahmu. Kukira kau butuh aku yang sederhana, yang hanya bisa mendengar keluhmu, yang cuma bisa mengusap punggungmu atau menyimpulkan senyum di wajahku ketika kau mengeluh. Bodohnya aku, ternyata kamu butuh seseorang yang lebih dari itu.
Kukira aku dapat menjadi seseorang yang kau percaya untuk membagi duka deritamu, ternyata aku belum seberarti itu, aku begitu kecil sampai kau tak dapat melihat seberapa tulusnya aku menghambakan diri pada kemenerimaanku atasmu.
Sebelumnya lama kubiarkan diriku larut pada kegelapan yang gelap, membiarkan diri sesakit-sakitnya tercabik-cabik kesendirian tanpa mau percaya lagi pada rasa cinta. Sampai suatu ketika aku bertemu denganmu yang begitu sepi, aku datang kepadamu, menjadi tamu bagi rumahmu berharap dapat meramaikan, kau menerimaku dengan baik, memperlakukan selayaknya tamu yang datang dengan niat baik-baik. Namun aku lancang, aku berharap bisa jadi pemiliknya, lebih dari sekedar tamu yang bisa datang dan pergi sesukanya. Aku ingin menjaganya, rumah itu aku ingin jadi yang menjaganya. Tapi ternyata tidak, tanganku begitu kaku dan kakiku begitu berdebu, khawatir aku akan menggores atau mengotori rumah yang kau benahi sekian lama, sehingga kau belum lagi mengizinkan aku melangkah lebih jauh. Langkahku terhenti dan aku berusaha mengerti, kau perlu penjaga terbaik untuk kau tempatkan sebagai pemiliknya. 
Meskipun pernah kukatakan aku menyerah, sebenarnya aku tidak pernah benar-benar menyerah, hanya terkadang aku  merasa sedikit lelah. Aku masih akan menunggu meski akan sangat lama lagi bagimu untuk membukakan pintu sepenuhnya, tidak apa, aku akan lebih banyak berusaha memantaskan diri. Aku yakin suatu hari akan ada hari ketika kau menyambutku dan mempersilakanku masuk sebagai tamu terbaik juga sebagai pemilik satu-satunya disana, rumah itu, hatimu…