Entahlah...
Hari yang sama
Namun musim telah berganti
Ah, sudah 2 tahun rupanya
Cepat sekali waktu berlalu
Tapi tak ada yang berubah
Masih sama seperti awal lalu
Tidak ada yang lebih baik selain tambalan-tambalan bekas luka yang terserak di sana sini
Kamu...
Kenapa selama ini begitu sulit kumengerti?
Mengapa tak mencoba jadi sedikit lebih sederhana agar kita bisa bersama?
Sulitkah?
Mungkin iya bagimu...
Untukku? Sebenarnya aku menunggu
Menunggu untuk banyak hal
Lama ku biarkan kalut meraja
Tanpa ku sadari aku mulai tersulut lelah
Namun aku masih terus menunggu
Jangan memandang dangkal tentang perasanku terhadapmu
Apa yang telah terjadi lebih dari sekedar yang kau pahami
Kalaupun kamu tahu bagaimana aku bertahan selama menunggu
Mungkin kaupun akan menangis
Paling tidak sedikit merasakan nyeri dalam dada
Entahlah...
Oktober Datang Lagi
Oktober datang lagi...
Tapi kali ini dengan angin yang berbeda
Tak lagi sama, seperti ketika kau dan aku duduk bersama
Saling diam...
Membiarkan angin menyampaikan rindu yang terbungkam
Mendung di awal Oktober
Kenapa tidak hujan saja sekalian?
Kemarau di hati ini sudah lama sekali
Tidakkah kau ingin menyejukkan?
Oktober datang lagi
Sudah lama kau tak lagi di sini
Ku tanya, "Kapan kembali?"
Kau masih diam, tak pernah mencoba menjelaskan
Saat itu aku tau, kau telah mnyerah...
Sedangkan aku?
Aku masih terus menunggu Oktober segera berlalu...
Perlukah Kita dengarkan Sayang??
Siang tadi aku sedikit tersadar
Di tengah hingar bingar yang mereka tau tentang kita
Kulihat ragu di segelintir dari mereka
Tapi aku melihat senyummu...
Seolah bertanya, “Perlukah kita dengarkan keraguan mereka Sayang??”
Malamnya kubilang, “Aku malu dengan mereka…”
Kau bilang “Jangan dengarkan mereka sayang, aku yang merasakan…”
Aku terdiam lagi…
Sebenarnya aku sedikit takut kamu akan terpengaruh dengan apa yang dunia katakan tentang aku
“Saat bersamaku, mungkin tidak sedikit hal yang kurang menyenangkan akan kamu dengar diluar sana tentang aku”, kataku
Kamu hanya menggenggam tanganku, lebih erat dari biasa
Aku tau kamu mencoba meyakinkanku
Aku hanya tersenyum…
Perlukah kita mendengarkan mereka sayang?
Tak perlu mendengarkan, tak perlu juga menjelaskan
Mereka akan mengatakan apa yang mereka lihat
Sekalipun kita mencoba menjelaskan yang sebenarnya
Mereka hanya akan menganggap kita membela diri
Kita tengah beralasan atau lain sebagainya
Bukankah setiap orang selalu mencari pembenaran atas tindakan yang telah mereka lakukan?
Abaikan saja Sayang…
Aku akan melakukan hal yang sama…
Tak perlu saling meminta percaya
Kita sudah tau bukan harus berbuat apa? :)
Cerita Narraya
Sejak siang otakku menggeliat, menunggu dicekoki obat…
Semalam aku digoda Narraya
“Tidurlah, jika ingin menjadi yang pertama melihatku lebih lembut besok”, tawarnya
Ah, saban haripun aku bisa melihatnya, elakku
Semalaman aku berusaha tak memejamkan mata, menantang Narraya
Kelebatan suara Narraya simpang siur beradu dengan suara cicak
Aku menahan marah, nampaknya godaannya tak terelak
Aku semakin gegabah menahan berat mata,
Ujung-ujungnya tertidur dengan bantahan jiwa
Aku masih terkapar saat panggilan-Nya menyerang dinding sederhana “kotak” ini
Semakin terpenjara ego
Namun bayangan Narraya terus berputar tak terhenti sekalipun dalam mimpi
Aku mengelak lagi…
Sampai ketika dadaku sesak
Nafasku sengak
Mataku tak mampu terbelalak
Tanganku mencengkram kuat…
Sakit, ku pikir ini akhir…
Dan Narraya telah berhasil memainkan perannya…
Membuatku diam, dibunuh ribuan sesal…
Tentang Masa depan
Senja sudah beranjak lagi…
Aku masih bergumul melawan dan menahan sekerumunan orang yang tengah berkoar tentang masa depan
Sejenak aku jenuh, “Uh, itu masih lama dan terlalu jauh!”, keluhku
Samar saja, tak terdengar
Aku memalingkan arah sejenak,
mengusap peluh yang menganak sungai
Meredam suara-suara yang kian memekak
Meengecam bosan yang terus mencekak
“Mbak…”, Sebuah sapaan hangat dan bersahabat mendarat di ujung telingaku
Hatiku penuh, mencoba menjadi utuh
Aku berusaha melempar senyum…
Ada semangat membara,
Kegelisahan mereda, kembali bergairah…
“Ah, ternyata masa depan itu kian dekat, tepat berada di depanku…”
Sudah saatnya aku memikirkannya… :)
Langganan:
Postingan (Atom)



