Selamat Datang di Dunia Kedewasaan, Uyuy, Kiky Kecil...

Hari ini salah satu patner Dodols-ku  Nurul Maulida aka Uyuy tepat menginjak usia 21 tahun, Selamat Ulang Tahun ku ucapkan… Bukan apa-apa, selamat karena telah kuat selama 21 tahun ini, selamat karena telah berhasil melewati banyak hal selama 21 tahun ini, selamat karena telah menghasilkan banyak hal positif selama 21 tahun ini, selamat ini ultah ke-2 mu selama bersama kami Patner Dodols mu, selamat karena di usia ke 21 sudah bertemu belahan jiwa dan selamat atas banyak hal… 

 

Lewat angka 20 sudah, selamat datang di dunia kedewasaan, sementara aku masih 19 tahun, hihi sekarang usia kita terpaut 2 tahun, tua nian dirimuu… Sudah cukup usia tuh buat jadi istri Abang,  tapi ntar kalau abang sudah lulus juga, :P

 

Apa yah Yuy, hmmm… Sebenarnya lewat tulisan ini aku mau melakukan pengakuan dosa, hihi

 

Sebenarnya malam Desy Kecelakaan waktu itu aku sedang pergi menemani Abang mencarikan kado ultahmu, maaf karena telah pergi dengan kekasihmu diam-diam dan membuatmu menunggu lama, kekasihmu itu sungguh natural sekali Yuy, beliau sama sekali tidak ada so sweet – so sweetnya, :D Malam itu aku tertawa saat membaca status facebookmu, hahaa ciyeee yang nungguin Abang, wkwk

 

Selain aku, Patner Dodols yang lain juga sibuk merencanakan ini itu buat surprise ultahmu, disela-sela tugas, kuliah dan sibuk ini itu kami heboh di sms dan di WhatsApp buat mendiskusikan apa kado, kapan dan bagaimana rencana surprise ultahmu.

 

Jum’at malam aku heboh sendiri, selain mikirin packing mau berangkat ke Palangka Raya, aku juga mikirin bagaimana cara membungkus kado Abang buatmu, ujung-ujungnya kardus tempat bahan makananku di kost yang kujadikan tempat pembungkus kadomu, haha

 

Sabtunya kami sama sekali tidak tenang, tepat hari H rencana belum fix, selain karena masih shock karena kecelakaannya Desy juga karena agenda Patner dodols yang nggak ada yang sesuai, sampai akhirnya waktu kuliah Strategi Belajar Mengajar diputuskan aku dan Kiky Besar yang nyari cake Pelangi ke Hypermart dan membelikan kado kipas angin buatmu itu, filosofinya sih itu katanya biar kamar kostmu alias markas kita itu nggak panas lagi kalau kita ngumpul, hehe. Itupun juga masih heboh Yuy, aku aja sampe mau kebawa emosi, sementara kado belum dapat harga yang sesuai budget eh Kiki Besar ditelpon mamahnya karena mamahnya datang ke Banjarmasin dan minta dijemput di terminal pal 6, agak nggak enak sama Kiki Besar, Eh.. Si ndut nyruh cepat-cepat karena surprisenya mau dimajuin ke jam setengah 4, tapi akhirnya kembali ke rencana semula, nungguin kamu selesai kuliah Kalkulus Lanjut pukul 6 sore. Di sekre Himaptika kami heboh, bolak balik dengan Abang nyalain lilin 4x, tapi tertipu terus sampai lilinnya hampir habis, hedeeh… Tapi akhirnya kamu datang dan di mandikan pakai air selokan di depan sekre himaptika, yessss!!! Hahaaa..

 

>> Saat Masih Utuh


                      

<< Uyuy Sudah Basah

 

 

 

>> Mencoba Balas Dendam

 

Dengan so sweetnya Abang keluar dari dalam sekre Himaptika membawa cake ultahmu, hmmm… Sempurna sekali moment waktu itu, ada kami sahabat-sahabat tercintamu, ada kekasihmu, selama ultahku tidak pernah sekalipun mendapatkan surprise kekasihku hadir bersama sahabat-sahabatku, :’)

 

>> Dengan Abang Tersayang


 

 

<< Si Abang dan Sahabat-sahabat

 

 

 

 

 

 

 

>> Bersama Patner Dodols  Tercinta

  

Hari itu bukan hanya perayaan ultah Uyuy, tapi juga perayaan Ultah Kiky Kecil yang seharusnya sejak 2 bulan lalu, kasian sekali Patner Dodols kita yang satu itu, ultahnya harus nyelip di Ultahmu, maafkan kami Kiiii… Bukan kami tidak perhatian atau tidak sayang, tapi kemarenkan terputus libur semester jadi Perayaan Ultahmu pun tertunda, jangan merasa di abaikan sayang, kami juga selalu sayang dan selalu berdo’a buatmu, :*

>> Yang Ultah Berdua

 Ya, karena hari sudah sore dan juga karena takut dimarahin Bapak Karim dosen Kalkulus Lanjut karena kami basah-basahan di depan sekre Himaptika kami pun segera pulang. Hari itu berlalu dengan baik, bahagia, hangat dan akrab… 






<< Cemong




 Sibuk Buka Kado >>

 

>> Tamu Undangan Hari ini

Dari Kanan: Abang Uya, Haris, Edwin Sebagai Fotografer, Dendy

 

Lega, artinya besok aku dapat berangkat ke Palangka Raya dengan tenang, :)

Sekali lagi selamat ulang tahun Uyuy, Kiki Kecil, banyak do’a yang tak terungkap, tapi percayalah kami selalu berharap yang terbaik buat kalian dan semoga kita selalu bersama, aamiin… :* :* :*

***

Kadonya buan km yang selalu bersamaku tu pang dah!” – Uyuy Dodols, 21 tahun, via WhatsApp

 

Dodols lovers… Makasihh yacch kadonya walau agak-agak telat, ckckckckgak pppaa… hee, ntarr ya makan gratisnya, luph you all, hee” – Kiky Kecil Dodols, 20 tahun, via WhatsApp

 

 

Entahlah...


Hari yang sama
Namun musim telah berganti
Ah, sudah 2 tahun rupanya
Cepat sekali waktu berlalu
Tapi tak ada yang berubah
Masih sama seperti awal lalu
Tidak ada yang lebih baik selain tambalan-tambalan bekas luka yang terserak di sana sini


Kamu...
Kenapa selama ini begitu sulit kumengerti?
Mengapa tak mencoba jadi sedikit lebih sederhana agar kita bisa bersama?


Sulitkah?
Mungkin iya bagimu...
Untukku? Sebenarnya aku menunggu
Menunggu untuk banyak hal


Lama ku biarkan kalut meraja
Tanpa ku sadari aku mulai tersulut lelah
Namun aku masih terus menunggu


Jangan memandang dangkal tentang perasanku terhadapmu
Apa yang telah terjadi lebih dari sekedar yang kau pahami
Kalaupun kamu tahu bagaimana aku bertahan selama menunggu
Mungkin kaupun akan menangis
Paling tidak sedikit merasakan nyeri dalam dada


Entahlah...

Oktober Datang Lagi


Oktober datang lagi...

Tapi kali ini dengan angin yang berbeda
Tak lagi sama, seperti ketika kau dan aku duduk bersama
Saling diam...
Membiarkan angin menyampaikan rindu yang terbungkam


Mendung di awal Oktober
Kenapa tidak hujan saja sekalian?
Kemarau di hati ini sudah lama sekali
Tidakkah kau ingin menyejukkan?


Oktober datang lagi

Sudah lama kau tak lagi di sini
Ku tanya, "Kapan kembali?"
Kau masih diam, tak pernah mencoba menjelaskan
Saat itu aku tau, kau telah mnyerah...
Sedangkan aku?
Aku masih terus menunggu Oktober segera berlalu...

Perlukah Kita dengarkan Sayang??


Siang tadi aku sedikit tersadar

Di tengah hingar bingar yang mereka tau tentang kita

Kulihat ragu di segelintir dari mereka

Tapi aku melihat senyummu...

Seolah bertanya, “Perlukah kita dengarkan keraguan mereka Sayang??”

 

Malamnya kubilang, “Aku malu dengan mereka…”

Kau bilang “Jangan dengarkan mereka sayang, aku yang merasakan…”

Aku terdiam lagi…

 

Sebenarnya aku sedikit takut kamu akan terpengaruh dengan apa yang dunia katakan tentang aku

“Saat bersamaku, mungkin tidak sedikit hal yang kurang menyenangkan akan kamu dengar diluar sana tentang aku”, kataku

Kamu hanya menggenggam tanganku, lebih erat dari biasa

Aku tau kamu mencoba meyakinkanku

Aku hanya tersenyum…

Perlukah kita mendengarkan mereka sayang?

 

Tak perlu mendengarkan, tak perlu juga menjelaskan

Mereka akan mengatakan apa yang mereka lihat

Sekalipun kita mencoba menjelaskan yang sebenarnya

Mereka hanya akan menganggap kita membela diri

Kita tengah beralasan atau lain sebagainya

Bukankah setiap orang selalu mencari pembenaran atas tindakan yang telah mereka lakukan?

Abaikan saja Sayang…

Aku akan melakukan hal yang sama…

Tak perlu saling meminta percaya

Kita sudah tau bukan harus berbuat apa? :)

 

 

 

 

 

 

 

 

Cerita Narraya

Sejak siang otakku menggeliat, menunggu dicekoki obat…

Semalam aku digoda Narraya

“Tidurlah, jika ingin menjadi yang pertama melihatku lebih lembut besok”, tawarnya

Ah, saban haripun aku bisa melihatnya, elakku

 

Semalaman aku berusaha tak memejamkan mata, menantang Narraya

Kelebatan suara Narraya simpang siur beradu dengan suara cicak

Aku menahan marah, nampaknya godaannya tak terelak

 

Aku semakin gegabah menahan berat mata,

Ujung-ujungnya tertidur dengan bantahan jiwa

 

Aku masih terkapar saat panggilan-Nya menyerang dinding sederhana “kotak” ini

Semakin terpenjara ego

Namun bayangan Narraya terus berputar tak terhenti sekalipun dalam mimpi

Aku mengelak lagi…

 

Sampai ketika dadaku sesak

Nafasku sengak

Mataku tak mampu terbelalak

Tanganku mencengkram kuat…

Sakit, ku pikir ini akhir…

 

Dan Narraya telah berhasil memainkan perannya…

Membuatku diam, dibunuh ribuan sesal…

 

Tentang Masa depan

Senja sudah beranjak lagi…

Aku masih bergumul melawan dan menahan sekerumunan orang yang tengah berkoar tentang masa depan

Sejenak aku jenuh, “Uh, itu masih lama dan terlalu jauh!”,  keluhku

Samar saja, tak terdengar

 

Aku memalingkan arah sejenak,

mengusap peluh yang menganak sungai

Meredam suara-suara yang kian memekak

Meengecam bosan yang terus mencekak

 

“Mbak…”, Sebuah sapaan hangat dan bersahabat mendarat di ujung telingaku

Hatiku penuh, mencoba menjadi utuh

 

Aku berusaha melempar senyum…

Ada semangat membara,

Kegelisahan mereda, kembali bergairah…

 

“Ah, ternyata masa depan itu kian dekat, tepat berada di depanku…”

Sudah saatnya aku memikirkannya… :)