Teramat Rindu


Aku sedang rindu
Teramat rindu
Rindu pada hal yang paling dekat denganku

Tersulut

Aku yakin tanpa perlu kuterangkan lagi kamu telah sangat memahami mengapa aku bersikap begini dan mengapa begitu. Walau tak jarang jalan pikiranku tak sama dengan imajinasimu dan membuat habis pikirmu.
Sebagaimana hari itu, kacau sekali pikiran ini mendebat hati agar tak sampai lancang merusak pertemuanmu. Sampai-sampai mau meledak rasanya hatiku menguasai diriku sendiri.
Tahukah kamu? Sebagaimana cinta, benci pun sulit dipaksa hilangnya. Sekuat hatiku menahan tak membenci bagian duniamu.

Hikmah Bulan Oktober

Hikmah 1 - Moment Bersejarah 1

Sesempurna apapun yang kau lakukan pasti selalu akan ada celah untuk orang lain berkomentar, entah memang karena kekuranganmu, namun juga terkadang karena rasa iri dengki.
Padahal mereka tidak tahu apa saja yang telah kau korbankan dan kau persiapkan untuk menghadapi hari itu.
Yang terpenting tetaplah menjadi diri sendiri yang positif untuk mendapatkan hasil yang terbaik dengan melakukan cara-cara yang baik juga. 
Bersikap terbuka, jangan anti dengan kritik yang membangun, abaikan kritik yang   jangan malu mengakui kekurangan dan jangan segan meminta maaf ketika salah.
Karena:

Mentari Bersinar Lagi :)


Selamat mendewasa my bestie nan jauh disana,
Ibu guru hebat di tengah negeri kabut asap.
Aku hadiahkan do'a-do'a terbaik meski hanya dalam hati, 
semoga segala hajat dan keinginanmu yang baik 
selalu diiringi dengan cara-cara dan keihlasan yang berlipat ganda.
Seperti namamu, bersinarlah dan terus bersinar, seperti MENTARI :))

Karena merapal do'a tak pernah menjadi caranya yang mainstream 
untuk membuat jarak terasa dekat.


*Backsound : Dewi Lestari - Selamat Ulang Tahun
Meski sedikit terlambat

Condong Catur, 20 Oktober 2015




Keterasingan yang Patut Disyukuri

*Keraton Yogyakarta*


Lama tidak menyentuh blog ini, akhirnya aku menulis lagi, semoga akan terus lagi dan lagi. Kali ini aku akan menceritakan tentang kehijrahanku ke Kota Sheila On 7 dan Kota Anak Kos Dodol favoritku.

Yogyakarta, akhirnya aku memilih kota ini sebagai tempat singgahku yang selanjutnya. Aku yakin bukan tanpa alasan mengapa Tuhan menggelindingkan takdirku untuk berada di kota ini tanpa sesiapapun yang mendampingi selain malaikat kiri kananku.

Halaman Persembahan Skripsi




HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini dipersembahkan untuk:

Ibu, Papap dan kedua anggota kingdom Luthfi, 
atas segala kesabaran, kekuatan, kemandirian, kasih sayang, tanggung jawab dan semua yang telah diberikan tanpa batas sampai berada di titik ini, kebanggan ini bukan hanya milikku, tapi juga milik kalian dan ini hadiah ulang tahun ke 52 tahun untukmu, Pap.
Keluarga besar, yang meskipun di kejauhan kerinduannya tak henti mengudara bersama do’a – do’a untuk anak rantau yang jarang pulang ini.

Gusti Ahmad Aliffullah Akbar, untuk setiap deringan telepon di tengah kantuk sebelum shalat di sepertiga malam setiap hari,
coklat dan larutan penyegar waktu sakit, dan seluruh waktu yang diluangkan untuk menenangkan ketakutan tentang ini itu.

Himaptika dan seisinya,
yang memberi ruang untukku tumbuh sejak dari benih
hingga menjadi pohon besar.
Sahabat-sahabat, Chintya, Aulia Dinata, Tiwi, Adelia – Maslianti – Lia Bhadun – Semua member Makhluk Dodol,
atas segala kebersamaan entah saat dekat atau jauh, saat berurai tawa
ataupun air mata, pelukan, ayam penyet Mila Hadi, make up dan kecelakaan jelang wisuda.

Kalian; semua kerabat, sahabat, teman sejawat
yang tidak mampu dituliskan satu per satu,
 kupikir selama ini 7 tahun berpetualang aku sudah jadi jagoan yang mampu bertahan dalam situasi apapun dalam hidupku,
ternyata tanpa kekuatan dan do’a kalian aku pasti jauh lebih cengeng melewati 6 SKS yang yang beratnya mengalahkan 142 SKS sebelumnya ini.
Terimakasih banyak, ini untuk kalian semua.


**Luthfia Ayu Karina



Random





Mungkin benar katamu, aku sedang terlalu bahagia makanya sulit untuk membuat tulisan, tapi aku juga tidak ingin menjadikanmu alasan untuk tulisan-tulisan sedihku yang mendayu-dayu. Jika ada bait tulisanku yang sayu dan kuyu, maka kaulah semestinya pelipurku. Aku tidak pernah kehabisan alasan untuk bahagia denganmu, sedih-sedih kecil yang hadir anggaplah hanya jamuan takdir sewajarnya karena kita manusia milik-Nya. Jadi biar kau jadi alasan tulisanku yang bahagia-bahagia saja. 

Mereka bilang kita kasmaran. Memang kasmaran karena masih 6 bulan tampak di mata awam, bagiku yang merasakan, ini adalah keajaiban. Aku tidak ingin menaklukkanmu, kau tak perlu tunduk patuh pada wanitamu yang bawel luar biasa ini. Aku tak pernah mengatakan “jangan” untuk hal-hal yang membuatmu senang bukan? Hanya saja aku sedikit rewel jika kau bangun kesiangan atau melakukan hal-hal yang dalam takaran akalku akan membuat kurus badanmu dan akan merugikanmu di masa yang akan datang. Aku tak perlu berucap banyak “jangan” seperti asmara picisan orang kebanyakan untuk kau selalu di sisiku bukan? 

Kau dan aku ya kita, manusia biasa perwujudan reinkarnasi pasangan petani gandum yang hidup bahagia di kaki gunung di masa lalu. Kita pernah melewati dengan baik satu masa yang panjang, aku jamin di masa sekarang dan seterusnya kitapun akan tetap jadi pejuang tangguh. 

Dimanapun kamu, kemanapun aku, percayalah ini tak akan lama, kita bisa melewati ini dengan bijaksana. Kita bukan pecinta yang manja bukan? Jika tangguhmu mulai runtuh, ada aku yang masih utuh. Jika aku yang rapuh, ada kau yang masih teguh. Jika kita berdua yang jatuh, semoga Tuhan selalu meluaskan hati kita dengan segala syukur dan mengeratkan pegangan kita agar dapat segera bangkit untuk melanjutkan perjalanan lagi.



*Ditulis random
Setelah kencan mingguan, saat menunggu kau sampai ke kotamu
31 Mei 2015
11.24 PM