Hina

“Sebegitu hinakah rindu,
Sampai orang harus malu untuk mengakuinya?”

Yogyakarta, 23 Mei 2016

07.32 

Sepasang Buta

Source: Newyorker.com

Banyak diceritakan dalam naskah-naskah picisan 
bahwa cinta itu buta,
Yang diritualkan kembali oleh para penghamba cinta
Lalu apa jadinya jika sepasang buta yang saling jatuh cinta?
Bagaimana mungkin mereka bisa saling jatuh cinta,
saling menjaga dan menua bersama hanya dengan saling meraba tanpa bisa melihat rupa?

Sepasang buta yang jatuh cinta,
Cinta buta sepasang buta ,
Sepasang buta yang cinta buta.



Bus Trans Jogja, 24 Mei 2015

12.15

Ragu



"Lantas siapa lagi yang harus aku percayai,  jika aku hanya berkawan dengan hatiku sendiri yang meragu?"

**Setiap pertanyaan seharusnya ada jawaban.



Yogyakarta, 14 Mei 2016

22.09

Tetap Sama




Aku mencintaimu,

Sama…
Tidak ada bedanya,
Tidak ada ubahnya,
Di detak jantung,
Di denyut nadi,
Di suara hati,
Di getar bibir…

Dan kau bisa pastikan sendiri,
Yakin, tak perlu ragu, dan jangan sangsi.
Apa yang kau dengar, apa yang kau rasa, 
Apa yang kau saksikan adalah bentuk bahasa jiwa,
yang diterjemahkan oleh ragaku.


Yogyakarta, 10 Mei 2016
1.32


Yang Kusebut Sahabat

Ketika kau sedang jauh dari dunia yang familiar denganmu,
Ketika kau merasa terasing, jauh dari dunia yang mengenalimu,
Ketika kau merasa sendirian, tidak ada yang menemanimu,

Kepadamu, Setahun Lalu


Yogyakarta, 03 November 2015

Aneh rasanya sejak denganmu aku sering kebingungan menuliskan sesuatu, bukan tidak ada yang ingin kubanggakan dan kuceritakan tentangmu kepada dunia, tapi mungkin memang menurutku hampir tidak ada kalimat yang tepat untuk dapat kutulis mewakili perasaanku agar dapat menjadi suguhan manis di depan binar matamu.

Perasaan ini lucu, bukan karena aku terlalu dan selalu berbahagia, terkadang kesal juga bisa muncul entah karena rasa lapar, aku malas mandi atau karena kau yang suka menggampangkan sesuatu. Tapi rasa syukur yang setiap hari muncul tak bisa dijelaskan dengan kosa kata apapun.

Tidak seperti kata Pramoedya Ananta Toer,
Aku menyayangimu lebih dari siapapun bukan hanya karena kau menulis,
dan suaramu yang takkan padam ditelan angin,
tapi karena kau adalah kau dengan semua hidupmu.

Aku selalu berkeyakinan bahwa Tuhan
mempertemukan kutubku dan kutubmu bukan tanpa alasan kebaikan.

Maka kali ini izinkanlah aku berbangga diri
karena berhasil mengisi harimu, bertempur dengan ego
dan membawamu sampai berhasil memecahkan rekor hubungan terlamamu :))

Terimakasih atas satu tahun perjalanan yang mendewasakan,
mengharukan dan menakjubkan,
memang tak begitu banyak pertemuan,
tapi semoga tidak pernah ada perpisahan
dan semoga Tuhan menyegerakan kita sampai ke tujuan…”






Luthfia Ayu Karina




Dua Perayaan Pertama Denganmu







Surat-surat ini diterbangkan langsung dari kota tempatnya mengenang hari pergantian usiaku yang ke 23, melalui balon-balon yang terbungkus kotak bersampul manis bersama harapan, doa, kejujuran dan cintanya. Pasti ini berat buatnya, aku tahu. Karena hari ini juga aku juga cukup kesepian melewati hari penuh rasa syukur ini sendirian.
Terimakasih untuk perjalanan satu tahun yang mendewasakan, menjadi yang tersabar dan menguatkan melewati fase-fase kehidupanku yang tidak melulu menyenangkan.
Saat hari-hari terasa sulit yang terbaik adalah tetap bersama-sama. Terimakasih karena tidak pernah melepaskan genggaman.
Selamat satu tahun menjadi pasanganku, tetap mendewasa dan menjadi istimewa bersama sampai bertahun-tahun berikutnya.
Selamat satu tahun dan selamat ulang tahun ke 23 untuk diriku. Kamu istimewa Luthfia, karena memiliki orang-orang istimewa yang menyayangimu.

Do the best in your life!
Welcome 23rd, please be nice with me...


*Setahun yang lalu

Yogyakarta, 14 November 2015