Senin, 04 Agustus 2014

Dia yang Seperti Sudah Sewindu Di Hidupku

Aku mengenalnya tak cukup lama, tapi seperti sudah sewindu dia di hidupku. Dia selalu mengistimewakan aku bahkan saat seluruh dunia mengerdilkan mimpiku. Terkadang aku merasa tak adil untuknya, aku selalu berlari kepadanya setiap aku kacau, marah-marah kepadanya sekalipun kesalahan yang tidak dilakukan olehnya, dia tidak pernah masalah dengan aku gampang uring-uringan dari hal-hal sepele sampai hal besar. Tapi saat aku sedang bersenang-seang aku bisa seharian jauh dari telepon genggam tanpa ingat dia ada disana.
Dengannya yang kutahu hanya bahagia, sekalipun diam-diam aku sering merasa tercekik dengan kata-katanya, 'menyentilku' tentang banyak hal lewat tulisannya  yang selalu 'berhati', aku tergila-gila pada setiap tema yang ditulisnya bahkan jauh sejak saat kami belum saling mengenal. 
Aku jauh lebih sering bawel ini itu tentang hidupnya, dia selalu welcome dan tak pernah bosan mendengarkanku nyap-nyap seperti emak-emak. 
Dia jarang bawel, dia mengenalku jauh lebih detail daripada aku mengenalnya, dari hal terkecilku hingga terbesarku dan tidak pernah komplain apa-apa tentang itu, dia hanya akan bawel tentang hal-hal yang bermutu. 
Kalau aku bawel dari soal penyakit pelupanya "Jangan lupa sweater kamu gampang kedinginan", "Sudah diingati hal-hal yang mau dibawa? Supaya jangan bolak balik", "Ngopi terus nih!", "Jangan kebiasaan ini, itu dan bla blaa blaaa...", itu aku dengan gaya khas emak-emakku. Sementara dia hanya akan bawel tentang penyakit kronis yang semua teman-temanku juga tahu, tapi lewat mata ketiganya hanya dia yang tahu kebenaran seberapa parah kadarnya. Penyakit keras kepala, 'terlalu serius', 'gampang menakutkan hal-hal yang belum terjadi', 'lupa cara bahagia' dan penyakit jiwa lainnya yang aku sendiri tak menyadarinya. Beda kualitas bawelnya!
Aku mampu menegakkan kepala dimana saja, bertindak seolah aku baik-baik saja, tertawa, mengiyakan keadaan, dijadikan panutan orang-orang, menjadi penata adegan dan pelaku sandiwara hebat, tapi tidak berlaku di hadapannya. Dengannya aku bahkan bisa menjadi manusia termanja yang paling manja, gampang ngeluh, cengeng dan sepaket sifat burukku mekar, dia yang menyuburkan dengan alasan jangan dipendam nanti bisa jadi penyakit.
Dia istimewa walaupun dia selalu merasa biasa saja, dia salah satu manusia yang paling aku syukuri keberadaannya.

"Aku tidak tahu nanti-nanti, aku tidak peduli bagaimana nanti, yang aku tahu aku menikmati kekinianku saat ini berbahagia bersamamu"

Iya, akupun mulai memahami arti itu :)

Selamat pagi kamu...


*Ditulis saat bangun pagi dan terlalu berbahagia karenamu
Alalak Utara, 5 Agustus 2014

Minggu, 06 Juli 2014

Tak Pantas

Bertahun-tahun aku berjalan memperpanjang jarak

dan meniadakanmu dalam banyak rencana hidupku. 

Aku merasa ada keganjilan yang tak terdefinisi menyeruak dalam diriku,

lama aku merasakan ini,

terkadang efek terdahsyatnya dapat mendoktrin diriku tak tahu diri mengirimkan pesan rindu kepadamu,

efek terlemahnya bisa membuatku bermasa-masa hanya menontonimu dari maya tanpa berkeinginan menyapa.

Kita tak pernah punya banyak waktu untuk saling bertatap muka

atau duduk bersampingan sambil menyela mengungkap rindu dibalik setiap denting gitarmu. 

Pipiku makin menggembul sekarang dan kulihat kau semakin kurus,

aku melihat betapa waktu terlalu cepat beranjak dan mengubah tata letak diri kita

tapi kita beringsut terlalu lamban dari sebuah halaman berjudul kenangan.

Maka tak pantas rasanya jika setiap saat aku harus  merasa tegang

melihatmu mengganti foto profil media sosialmu bersama seorang wanita dengan bergandengan tangan


                Alalak Utara, 9 Mei 2014

9.46

The Story of " Si Pengangguran Banyak Acara"


Aku yang dulu bukanlah yang sekarang, asek aseek josh! *oke stop itu alay!*

Well, akhirnya kesepian hari-hari akhir ini memancing keinginanku untuk mengisi blog ini lagi. Ah, sudah lama sekali, sekarang komplit, selain hati yang dipenuhi jaring laba-laba karena tidak ada yang menempati, bahu yang berdebu karena sudah lama tidak ada yang bersandar disana, ditambah lagi blog yang nyaris jadi sarang hantu. *curcol sambil nyapu*

Halloooo Ay kemana aja kamu selama ini?

Satu tahun setengah tahun belakangan ini adalah masa-masa yang paling sulit sekaligus yang paling aku syukuri dalam hidup. Bagaimana tidak?

Mungkin aku termasuk salah satu orang yang jalan hidupnya dibuat Tuhan dengan sangat kreatif. Ritme kehidupanku terasa cepat sekali berubahnya. Belum genap satu tahun sejak beralih status dari mahasiswa super galau yang overload kegiatan dan suka balik ke kost tengah malam, jadi mahasiswa, merangkap jadi staff perpustakaan, guru bimbingan belajar matematika, ibu rumah tangga gadungan dan seabreg kesibukan lainnya yang bikin lupa diri dan lupa waktu. Sekarang tiba-tiba sudah berubah lagi menjadi seorang jobless, orang rumahan yang gampang kesepian yang mengisi liburan dengan jadi penulis serabutan.

Hal paling sulit pertama, adalah ketika satu setengah tahun lalu, kuliah di jurusan yang bukan passsionku membuatku banyak kesulitan, aku harus menerima kenyataan bahwa target lulus program sarjanaku yang semestinya 4 tahun menjadi 4,5 tahun.

Dimana sulitnya? Jelas sulit buatku yang seumur hidup tidak pernah gagal di bangku sekolah, tidak pernah keluar dari 3 besar bahkan nyaris selalu berada di posisi teratas. Apakah ini termasuk kegagalan? Entahlah, mungkin lebih tepatnya ketidakberuntungan, hanya karena 1 SKS aku harus menunggu 1 tahun untuk PPL 1 dan 1,5 tahun untuk PPL 2.

Sungguh, sangat sulit dalam keadaan seperti saat itu, aku harus menangis selama berhari-hari untuk mencerna dan memahami bahwa ini adalah ‘rencana terbaik Tuhan’. Ketika itu rasanya akan sulit sekali melewati hari-hari, namun toh pada akhirnya semua berlalu dan hari ‘seragam hitam putih’ itu sampai juga kepadaku.

Di tengah perasaan ‘tertinggal’, aku berusaha menata hidup kembali, saking inginnya melupakan dan membuat hari tidak terasa berlalu, aku benar-benar tidak memberi ruang pada diriku untuk memiliki jeda.

Saat itu aku sempat hidup di 5 komunitas dan 2 organisasi dengan memegang posisi penting, diantaranya sebagai sekretaris umum Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika, sekretaris komunitas Buhandroid Banjarmasin Kalimantan Selatan, Sekretaris komunitas Sheilagank Kalimantan Selatan, anggota Kelompok Masyarakat Peduli Siaran ‘Kaktus’ dibawah lindungan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Kalimantan Selatan, dan menjadi anggota di beberapa komunitas lainnya.

Pergi pagi, pulang malam, namanya ketiduran di kampus sudah jadi hal biasa. Setiap malam menghabiskan waktu dengan mengerjakan banyak hal, sering tidak tidur semalaman. Yang makin memperparah keadaan adalah aku single! Tidak ada yang menguatkan dan tidak ada juga yang mampu memberikan rem untuk kegilaanku.

Sampai pada suatu hari aku bercermin dan melihat diriku dalam keadaan yang sangat parah, badan kurus kering, muka pucat, mata berkantung. Aku kembali tersadar, apakah aku akan terus begini?

Beruntung karena setelah itu aku mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai staff di perpustakaan jurusan di kampusku dan berbarengan dengan tawaran dari bimbingan belajar Smart & Sukses milih kak Achim untuk menjadi guru bimbingan matematika. Yang lebih melengkapi lagi adalah kepindahanku dari kost ke kontrakan dengan tanggungjawab baru mengurus adik sepupu yang baru masuk kuliah.

Merangkap sebagai mahasiswa, karyawan, guru, ibu rumah tangga, awalnya membuatku kesulitan karena selain harus berkutat dengan pekerjaan kantor, tugas kuliah, murid-murid dan materi bimbingan belajar, juga berkutat dengan rumah dan dapur, sampai waktu untuk diri sendiri hampir tak terpikir.

Ibu, aku sudah tau rasanya bagaimana harus menjadi multitalenta tanpa harus mengeluh meskipun sangat lelah, bagaimana mungkin kau bisa melakukan hal yang sama dengan sangat baik selama bertahun-tahun bu?
Tapi hari-hari berlalu tidak sedatar berlalu begitu saja, berkali-kali ujian datang, aku menangis, tapi nyatanya aku tidak pernah menyerah. Aku percaya, Tuhan tidak akan memberikan ujian kepada orang yang lemah. Kesulitan-kesulitan ini menjadikanku manusia yang pandai mengambil hikmah dan lebih baik lagi.

Kalian tidak perlu membayangkan dan kemudian mengasihani bagaimana aku bertahan, cukup belajar dari pengalamanku saja, ambil hal baiknya dan untuk hal buruknya maklumilah bahwa aku memang benar-benar manusia.

Hari ini, statusku sekarang adalah seorang jobless, bahasa kerennya dari pengangguran, haha! Udah sebulan nggak masuk kerja, selain karena kemarin-kemarin fokus untuk UAS juga sekalian proses resign karena niat mau fokus skripsi. Enaknya jadi jobless habis shalat subuh bisa bobo lagi guys, nggak mesti berangkat pagi-pagi dengan seragam rapi dan sepatu hak tinggi. Tapi banyakan nggak enaknya sih, udah kesepian juga nggak ada pemasukan di awal bulan ketika kiriman orangtua terlambat datang, tiba-tiba aku sangat merindukan meja dan komputer kerjaku haha!

Tapi dibilang jobless, aslinya aku nggak sejobless itu juga kok, aku masih jadi guru matematika di bimbel tapi karena anak-anak lagi pada libur sekolah jadi memang lagi nggak ada kerjaan, lagian mengajar itu kesenangan, aku nggak terlalu mikirin duitnya, tapi aku senang bicara dengan anak-anak, berbagi tentang banyak hal, mungkin emang udah naluri begitu. Selain itu barusan juga dapat job buat nulis naskah sandiwara radio 30 episode striping untuk Romantika Ramadhan di SKY 89.3 FM dengan judul Pelangi, dan itu keren! Genre baru dalam sejarah menulisku! Jadi ibu rumah tangga juga tetep jalan, ya berusaha menikmati masa-masa peralihan lagi, hitung-hitung belajar ikhlas kalau suatu saat mau insyaf jadi wanita karir dan fokus ngurus rumah tangga.

Oya, barusan juga aku berhasil menelorkan sebuah buku kumpulan 51 puisi untuk ulang tahun Papap yang ke 51 dengan judul Perayaan Yang Tertunda, sekarang dalam proses proofread, awalnya proyek pribadi memang, bukunya juga indie, tapi berhubung akunya banyak fans, jadi banyak juga yang nunggu, pamer! Hihii Semoga bisa segera rilis, aamiin…  

Harapan terbesar tahun ini adalah Allah melancarkan proses dan perjuangan kelulusanku semester 9 ini, jadi bisa wisuda Februari 2015, aamiin… Soalnya udah buru-buru pengen buat ibu lega, akunya juga lega lepas dari matematika, terus rencananya pengen lanjut ke Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang, jangan ditanya kenapa nggak mau ngambil Magister Pendidikan Matematika. Aku nggak pernah takut nggak punya pekerjaan karena jurusan S1 dan S2 ku nggak linier kok, bukannya nyombong nih ya, dengan sepak terjangku selama ini, aku menghargai kemampuan lebih dari sekedar title S atau M di belakang namaku. Oya, selain itu izin menikah dari ibu belum turun kalau aku belum masuk S2, ayyyeeee~~ :3

Selagi masih muda, aku nggak pernah takut untuk mencoba banyak hal baru, karena kesempatan seperti ini belum tentu datang kepada orang lain, apa yang aku lakukan hari ini akan mencerminkan jadi wanita yang seperti apa aku di masa depan. Yeaaay!

Semangat Luthfia Ayu Karina! Jangan takut, Allah sebaik-baik perencana, Allah bersamaku, insyaAllah…

Alalak Utara, 7 Juli 2014
11. 42


Kamis, 03 Juli 2014

(Sedang) Bermanja Kepada Tuhan

Ada banyak hal yang mengganguku belakangan ini, hari-hari kulewati dengan kesulitan bernafas, bergumpal lelah menggelembung semakin menyesakkan yang kapan saja bisa meledakkan dada, setiap hari kepala berdenyut-denyut tanpa toleransi pada warasku yang kian terkikis. 

Benar apa yang dibilang Mas bangkit saat ulang tahunku yang ke 20 lalu "Usia duapuluhan itu memang masa yang paling krusial, tumpukkan masalah bisa datang kapan saja tanpa konfirmasi dulu dan kamu perlu lebih bijaksana untuk tidak mudah tertekan melewati itu".

Sebegitu percayanya Tuhan pada kemampuanku bertahan setiap waktu ujiannya semakin terasa berat kuhadapi. Dia Maha Tahu, aku mampu menghadapi melebihi persepsi mentalku sendiri. Tapi kali ini entah, sekalipun ada tabah dan kekuatan, itupun mulai menipis stoknya dalam diri, beruntungnya rasa syukur dan kepercayaan diri terhadap Tuhan masih mampu bertahan. 

Entah apa lagi rencana Tuhan berikutnya, pernah berkali-kali aku merasa tidak mampu melewati ujian yang datang, toh pada akhirnya semua berhasil aku lalui entah itu dengan baik atau tidak, memang dalam hidup seperti di sekolah, kalau ingin naik tingkat ya harus melewati ujian dulu. 

Hidup ini juga seperti sedang berada di cafe, kita tidak pernah tahu akan mendengar lagu apa yang putar pemilik cafe, lagu yang kita suka ataupun tidak toh pada akhirnya kita tetap akan mendengarkan dan menikmati lagu itu sampai habis.

Kali ini aku sedang ingin bermanja kepada-Mu Tuhan, Tuhan sekarang pecintamu yang bernama Luthfia ini benar-benar merasa kelelahan untuk bertahan sendirian, tak ada pelukan yang bisa dipinjam karena tidak ingin turut merapuhkan orang-orang yang bertumpu kepadaku. Yang Maha Cinta, lapangkan yang menyesakkan ini, mohon lancarkan apa yang selalu dipendam ibundaku dalam do'a, lancarkan apa yang selalu kuraikan bersama airmata di sujud terakhirku, sayangi kedua orangtuaku sebagaimana mereka berbuat baik kepadaku dan adik-adikku, jangan hukum mereka karena kesalahan mereka di masa lalu, jangan hukum mereka karena kesalahan kami anak-anaknya.

Mohon Tuhan kali ini izinkan aku bermanja kepada-Mu, berikan waktu istirahat kepadaku untuk mengambil jeda, jangankan tertawa bahkan tersenyumpun aku hampir lupa rasanya. Yang Maha Penyayang, apapun itu, keyakinanku tak pernah surut kepadamu, Engkau berdasarkan prasangka hamba-Mu kepada-Mu, apalabila prasangka itu baik maka baik pulalah Engkau kepadanya dan aku percaya, Engkau Maha Tahu sampai mana batasku. Mohon Tuhan, beri jeda untukku, jeda untuk mengendurkan urat tegang di leherku yang bisa datang kapan saja mengundang sakit kepala dan berdebar-debar di dada.

Tuhan terimakasih lewat ayat-ayat-Mu pencerahan itu Engkau berikan kepadaku, semoga aku lebih kuat karena memahaminya.


"Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata:
`Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah` (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)" (QS. At-taubah : 59)


"Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal". (QS. At-Taubah : 51)


"... Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat." - (QS. Al Furqan : 20)



*Lagi cengeng
Alalak Utara, 4 Juli 2014
11.42

Kamis, 27 Maret 2014

KALIAN APA-APAAN?!


Dalam hitam menyela bintik-bintik warna-warna
Kiri kanan tertata senyum polesan di jalanan
Wajah manis tersulam penuh pura-pura
Menjadi yang terpuja dalam fana
Berbahasa surga mengobral dusta, perusak dalam kaidah tata bahasa
Pesta durian berjuta-juta
Plesiran tertawa-tawa
Kalian berpesta pora
Menyipit mata pada manusia dengan ajal di depan mata
Hey, kalian apa-apaan?!


Alalak Utara, 27 Maret 2014
23.34

DRAMA SEGELAS JINGGA


Wanita itu memesan segelas jingga di atas meja
Kemudian memandanginya penuh tanya
Ada apa sebenarnya di dalamnya?
Sehingga si pria pujaannya begitu menyukainya


Jemarinya bergerak mencapai batang sedotan
Butir-butir kenangan timbul tenggelam dalam adukan
Luka-luka mulai mengambang di permukaan
Tanya-tanya meleleh disisian gelas


Bibirnya mulai menyesap perpaduan getir rindu sambil berangan
Hingga getirnya membanjiri kerongkongan


Butir-butir kenangan mencair memudarkan jingga
Tapi masih timbul tenggelam dalam ingatan
Tanya-tanya meluber, sekalipun sudah membasahi meja
Masih saja tak ada jawab


Bibirnya menyesapnya lagi
Tak hanya getir tapi juga mulai hambar
Lantas apa yang masih bisa dinikmati dari perasaan yang tak enak begini?


Kenangan yang menghambar
Luka-luka yang mengambang
Tanya-tanya meluber tanpa jawab


Sejenak wanita itu terdiam
Tak berapa lama dia angkat kaki

Meninggalkan banyak cerita dalam hambarnya drama segelas jingga


*Untuk segelas lemon tea yang kau suka
Alalak Utara, 28 Maret 2014
00.13

Rabu, 26 Maret 2014

LEBIH RINGAN MANA?


Menurutmu aku apa?
Bibir pantai tempat bidukmu menanggalkan penat sajakah?
Atau sisa-sisa karang terdampar yang memberimu kasihan?
Dirimu, adalah lelah jemuku mengadu cemburu antara harap dan penat
Butir-butir hujan kelabu yang menimpa tanah merah
Penabuh resah di antara duka dan bahagia
Menurutmu, lebih ringan mana?
Jadi aku, ataukah kau saja?


Banjarmasin, 26 Maret 2014
23.22