Selasa, 20 Oktober 2015

Hikmah Bulan Oktober

Hikmah 1 - Moment Bersejarah 1

Sesempurna apapun yang kau lakukan pasti selalu akan ada celah untuk orang lain berkomentar, entah memang karena kekuranganmu, namun juga terkadang karena rasa iri dengki.
Padahal mereka tidak tahu apa saja yang telah kau korbankan dan kau persiapkan untuk menghadapi hari itu.
Yang terpenting tetaplah menjadi diri sendiri yang positif untuk mendapatkan hasil yang terbaik dengan melakukan cara-cara yang baik juga. 
Bersikap terbuka, jangan anti dengan kritik yang membangun, abaikan kritik yang   jangan malu mengakui kekurangan dan jangan segan meminta maaf ketika salah.
Karena:

"Tuhan tak akan meninggalkanmu atas yakinmu sejauh ini" (Sheila On 7)

1 - 2 Oktober 2015


Hikmah 2 - Moment Bersejarah 2

Jika telah mencoba sekali gagal, maka lanjutkan dengan yang ke dua, jika yang ke dua juga gagal, lanjutkan seterusnya hingga percobaan yang ke sekian, karena kau tak pernah tahu hikmah apa yang Tuhan simpan di balik setiap percobaan itu.
Karena setiap yang akan menjadi milikmu tidak akan pernah tertukar dengan milik orang lain. Entah itu berhasil atau tidak, yang jelas jangan biarkan setiap kesempatan yang menghampirimu berlalu tanpa usaha yang maksimal dan menyisakan penyesalan.
Melakukan sesuatu tanpa ekspektasi memang mustahil, entah itu 1% atau 50% ekspektasi tetaplah ekspektasi, saat itu terjadi maka hanya ikhlaslah yang dapat menjadi obat penyembuh rasa takut dan kecewamu ketika yang kau harapkan tidak sesuai yang kau dapatkan. Karena yang terbaik menurut versimu belum tentu sama dengan versi Tuhan, namun apapun itu, selalu berprasangka baiklah kepada Tuhan, karena hanya Dia-lah sebaik-baik penolong dan pelindungmu.

Bismillah... Misi ikhlas sampai 2 minggu ke depan dimulai :))

"Jangan mengeluh, jadilah tangguh, seperti yang kamu impikan" (Sheila On 7)

Finally, percobaan ke 2  tinggal menunggu hasil
(20 Oktober 2015)



Terimakasih Tuhan atas segala kesempatan dan kemampuan yang telah diberikan kepadaku, karena tanpa itu semua aku tidak akan mungkin mengecap hal-hal yang belum tentu orang lain merasakannya juga. Masukkanlah aku dalam golongan orang-orang yang bersyukur.

***


Condong Catur, 20 Oktober 2015

Mentari Bersinar Lagi :)


Selamat mendewasa my bestie nan jauh disana,
Ibu guru hebat di tengah negeri kabut asap.
Aku hadiahkan do'a-do'a terbaik meski hanya dalam hati, 
semoga segala hajat dan keinginanmu yang baik 
selalu diiringi dengan cara-cara dan keihlasan yang berlipat ganda.
Seperti namamu, bersinarlah dan terus bersinar, seperti MENTARI :))

Karena merapal do'a tak pernah menjadi caranya yang mainstream 
untuk membuat jarak terasa dekat.


*Backsound : Dewi Lestari - Selamat Ulang Tahun
Meski sedikit terlambat

Condong Catur, 20 Oktober 2015




Selasa, 15 September 2015

Keterasingan yang Patut Disyukuri

*Keraton Yogyakarta*


Lama tidak menyentuh blog ini, akhirnya aku menulis lagi, semoga akan terus lagi dan lagi. Kali ini aku akan menceritakan tentang kehijrahanku ke Kota Sheila On 7 dan Kota Anak Kos Dodol favoritku.

Yogyakarta, akhirnya aku memilih kota ini sebagai tempat singgahku yang selanjutnya. Aku yakin bukan tanpa alasan mengapa Tuhan menggelindingkan takdirku untuk berada di kota ini tanpa sesiapapun yang mendampingi selain malaikat kiri kananku.

Minggu, 31 Mei 2015

Halaman Persembahan Skripsi




HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini dipersembahkan untuk:

Ibu, Papap dan kedua anggota kingdom Luthfi, 
atas segala kesabaran, kekuatan, kemandirian, kasih sayang, tanggung jawab dan semua yang telah diberikan tanpa batas sampai berada di titik ini, kebanggan ini bukan hanya milikku, tapi juga milik kalian dan ini hadiah ulang tahun ke 52 tahun untukmu, Pap.
Keluarga besar, yang meskipun di kejauhan kerinduannya tak henti mengudara bersama do’a – do’a untuk anak rantau yang jarang pulang ini.

Gusti Ahmad Aliffullah Akbar, untuk setiap deringan telepon di tengah kantuk sebelum shalat di sepertiga malam setiap hari,
coklat dan larutan penyegar waktu sakit, dan seluruh waktu yang diluangkan untuk menenangkan ketakutan tentang ini itu.

Himaptika dan seisinya,
yang memberi ruang untukku tumbuh sejak dari benih
hingga menjadi pohon besar.
Sahabat-sahabat, Chintya, Aulia Dinata, Tiwi, Adelia – Maslianti – Lia Bhadun – Semua member Makhluk Dodol,
atas segala kebersamaan entah saat dekat atau jauh, saat berurai tawa
ataupun air mata, pelukan, ayam penyet Mila Hadi, make up dan kecelakaan jelang wisuda.

Kalian; semua kerabat, sahabat, teman sejawat
yang tidak mampu dituliskan satu per satu,
 kupikir selama ini 7 tahun berpetualang aku sudah jadi jagoan yang mampu bertahan dalam situasi apapun dalam hidupku,
ternyata tanpa kekuatan dan do’a kalian aku pasti jauh lebih cengeng melewati 6 SKS yang yang beratnya mengalahkan 142 SKS sebelumnya ini.
Terimakasih banyak, ini untuk kalian semua.


**Luthfia Ayu Karina



Random





Mungkin benar katamu, aku sedang terlalu bahagia makanya sulit untuk membuat tulisan, tapi aku juga tidak ingin menjadikanmu alasan untuk tulisan-tulisan sedihku yang mendayu-dayu. Jika ada bait tulisanku yang sayu dan kuyu, maka kaulah semestinya pelipurku. Aku tidak pernah kehabisan alasan untuk bahagia denganmu, sedih-sedih kecil yang hadir anggaplah hanya jamuan takdir sewajarnya karena kita manusia milik-Nya. Jadi biar kau jadi alasan tulisanku yang bahagia-bahagia saja. 

Mereka bilang kita kasmaran. Memang kasmaran karena masih 6 bulan tampak di mata awam, bagiku yang merasakan, ini adalah keajaiban. Aku tidak ingin menaklukkanmu, kau tak perlu tunduk patuh pada wanitamu yang bawel luar biasa ini. Aku tak pernah mengatakan “jangan” untuk hal-hal yang membuatmu senang bukan? Hanya saja aku sedikit rewel jika kau bangun kesiangan atau melakukan hal-hal yang dalam takaran akalku akan membuat kurus badanmu dan akan merugikanmu di masa yang akan datang. Aku tak perlu berucap banyak “jangan” seperti asmara picisan orang kebanyakan untuk kau selalu di sisiku bukan? 

Kau dan aku ya kita, manusia biasa perwujudan reinkarnasi pasangan petani gandum yang hidup bahagia di kaki gunung di masa lalu. Kita pernah melewati dengan baik satu masa yang panjang, aku jamin di masa sekarang dan seterusnya kitapun akan tetap jadi pejuang tangguh. 

Dimanapun kamu, kemanapun aku, percayalah ini tak akan lama, kita bisa melewati ini dengan bijaksana. Kita bukan pecinta yang manja bukan? Jika tangguhmu mulai runtuh, ada aku yang masih utuh. Jika aku yang rapuh, ada kau yang masih teguh. Jika kita berdua yang jatuh, semoga Tuhan selalu meluaskan hati kita dengan segala syukur dan mengeratkan pegangan kita agar dapat segera bangkit untuk melanjutkan perjalanan lagi.



*Ditulis random
Setelah kencan mingguan, saat menunggu kau sampai ke kotamu
31 Mei 2015
11.24 PM

Minggu, 03 Mei 2015

Jawaban Tuhan; Perihal Takdir

Rasanya sangat egois jika kali ini aku tidak turut berbahagia atas datangnya kabar ini, tapi terlalu munafik juga jika tidak mengakui bahwa aku agak sedikit entah haru atau bersedih karenanya. Cukup lama tiada saling berbagi kabar berita, tanah pijakan pun sama jauhnya, kali ini kabar itu datang tengah malam, bersama sepotong pesan pendek bertajuk undangan pernikahan dari sebuh nomor tak bernama.

“Tanggal 3 bulan 5 aa’ menikah Ay”

Aku masih setengah tidur waktu pesan itu masuk ke kotak masu hape bututku, kukira pesan itu masih merupakan bagian dari penggalan mimpiku semalam, ternyata tidak, memang benar dia mengabarkan pernikahannya.

Akhirnya hari itu datang. Hari dimana Tuhan memberikan jawaban atas segala pertanyaan perihal takdir yang telah lama ditunggu-tunggu selama bertahun-tahun tentang apa, bagaimana, dimana dan siapa yang akan menikah terlebih dahulu di antara dua orang yang pernah saling mengubur cinta karena pertentangan orang tua.

Tinggal bertetangga lama, berkawan sejak kanak-kanak, memadu cinta saat belia hingga menjadi sahabat saja menjadi pilihan yang paling tepat, mendewasa bersama, saling pasrah hingga berputus asa demi menjaga perasaan dari banyak nama.

Antara bahagia bercampur sedih, sebentar lagi aku akan melepas salah seorang sahabat paling karib dalam hidup. Walau tak melulu saling bertemu, tapi setiap waktu bertemu menjadi canda yang candu. Kenangan berputar timbul tenggelam dalam ingatan, ketika sama-sama tak ada uang namun  masih menyempatkan makan bersama, memakai baju yang sama, bernyanyi bersama dengan alunan gitar tua, membicarakan kekonyolan-kekonyolan masa muda, menertawakan harapan yang fana, membicarakan orang-orang tercinta setelah kita, dan lain sebagainya. Rasa kehilangan yang datang pada saat yang sebenarnya tidak kehilangan.

Berdebar keras dadaku memacu roda duaku menuju tempat hari besarmu, tidak ada kemampuan mataku bersitatap dengan ragamu, perlahan kedua bola mataku mengabut, berat seperti dirundung mendung yang nyaris mendatangkan hujan.

Hari ini aku berjalan disisimu lagi, tapi bukan sebagai pendampingmu. Hari ini tunai sudah tugasku, sebagai seorang adik, sebagai seorang sahabat, juga sebagai sang mantan.  Aku payungi kau yang mengenakan pakaian pengantinmu menggunakan tanganku sendiri, tak peduli dipandangi takjub sekaligus iba oleh orang-orang yang tahu cerita kita. Sebab ini bukan payung hitam penuh kesedihan, tapi dengan payung indah berwarna pelangi yang kumantrai dengan doa-doa dan pengharapanku untuk kebahagiaanmu. Hari ini lunas sudah segala janjiku pada diriku sendiri, aku antarkan kau tepat sampai di depan pelaminanmu menemui pengantin wanita yang terpantas telah kau pilih sebagai belahan jiwa.

Selamat menempuh hidup baru a'...

*Ssssttt... Nanti gantian, payungilah pengantin lelakiku nanti sampai ke hadapanku di pelaminan :)))"


Kamis, 16 April 2015

Catatan Hari Terakhir di Surabaya

Last day di Surabaya, oh tidak! Katakan liburan gratis ini belum akan segera berakhir! Plisss... *ngarep*

Oke, akhirnya liburan ini akan segera berakhir, hari terakhir di Surabaya dimulai dengan lagi-lagi bangun kepagian, males mandi (kayak biasa), sarapan nasi goreng (lagi) dan menikmati suasana hari minggu kota ini.  

Tugu Pahlawan sangat ramai di hari minggu pagi, ada pasar tumpah atau pasar tungging di sepanjang jalan. Namun sepertinya kurang oke untuk mampir dengan rombongan begini, sebab ada banyak orang yang jago magic disana, magic dalam artian tanda kutip, alias tukang hipnotis.

Jam di handphoneku menunjukkan pukul 8 WIB waktu kami check out dari hotel dan mulai memasukkan barang-barang kami ke dalam bagasi bus dan memulai perjalanan. Aku melewati banyak tempat yang hanya sering kulihat di televisi, kantor Ibu Risma, Walikota Surabaya yang aku kagumi, bangunan-bangunan tua Surabaya yang mirip dengan daerah pasar Sudimampir di Banjarmasin, jalan-jalan yang melintasi rel kereta api, dan banyak lagi. Tujuan pertama kami hari ini sebelum kembali Banjarmasin adalah Jembatan Suramadu, Kemudian Ke Pasar Turi dan Kebun Binatang Surabaya.

Jembatan Suramadu adalah jembatan sepanjang 5,8 km yang dibangun untuk menghubungkan pulau jawa dengan Madura, jembatan terpanjang yang pernah aku lewati. Entah aku yang katro atau memang melewati jembatan ini terasa menakjubkan, jalur yang biasanya mesti rempong ditempuh dengan naik kapal untuk menyebrang dan memakan waktu lebih lama, sekarang bisa dilewati hanya dengan hitungan menit dan tentu saja harus membayar tol terlebih dahulu. Perjalanan begini membuatku jadi banyak berpikir, aku berkhayal lagi seandainya dari Penajam dan Balikpapan bisa dihubungkan oleh jembatan begini, mungkin kami tidak perlu susah payah belama-lama mabuk darat ditambah mabuk laut untuk menyeberang ke kota Balikpapan. Semoga suatu hari nanti, aamiin…

Kami mampir sebentar di kios-kios yang berjualan pernak pernik ala Suramadu sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Pasar Turi Surabaya. Tidak banyak yang bisa diceritakan di Pasar Turi Surabaya, mungkin karena aku kurang bisa mneikmati pusat perbelanjaan yang seperti ini, hanya mengantar ibu saja memilah milih dan membeli beberapa potong baju muslim,  aku lebih suka pasar tumpah yang ada di pinggiran jalan, jiwaku memang traveler gembel banget, hehe

Selanjutnya tujuan terakhir kami adalah Kebun Binatang Surabaya (KBS). Aku dan adik-adikku jejingkrakan kegirangan. Berbagai macam hewan ada disana, dengan berbagai kondisi. Dari jenis ayam, burung-burungan, monyet, jerapah, unta, zebra, berbagai macam ikan, gajah dan ada si pongo alias orang utan. Ada satu orang utan yang paling tua, katanya berusia 12 tahun, sangai pintar, dia meminta es krim yang diakan Yoga dan Icha dan ini pertama kalinya aku melihat bekantan dan unta di depan mataku sendiri, lucu hihii

Masuk mesti pake beginian

Terlalu eksis, icon Surabayanya kepotong di belakang


Capeks keliling
Ada Pongo di belakang

Selfie di depan Gajah kecil yang malang
Senangnya karena di Banjarmasin tidak ada kebun binatang yang lengkap seperti ini, sedihnya karena kebun binatang sebesar ini kurang terawat, ada banyak kandang yang sudah kosong dan beberapa hewan yang tidak diberikan habitat yang seharusnya, seperti gajah yang kakinya di rantai di dalam kandang, hiks kesian L

Selesai petualangan di kebun binatang artinya kami harus segera berangkat ke bandara Juanda Surabaya. Konon kabarnya Bandara Juanda cukup padat pada hari minggu begini, jadi kami harus berangkat kesana lebih awal untuk memasukkan bagasi kami yang seabrek. Kalau boleh memberi kesan, waktu yang singkat di Bali lebih bikin nagih ketimbang 2 hari di Surabaya.


Kami akan pulang ke Banjarmasin menggunakan penerbangan Lion Air Penerbangan terakhir pukul 19.15 WIB. Kalian tahu apa yang paling kurindukan dari Banjarmasin? Ada seseorang yang menungguku disana, seseorang yang membekali sweater yang selalu melilit di leherku ini karena dia sangat tahu aku gampang masuk angin, yang bela-belain puluhan kilometer datang untuk turut menjemputku di Bandara bersama sahabatku, J

Banjarmasin, I’m home…



*Bandara Juanda, 5 April 2015
Ditulis berantakan waktu menunggu keberangkatan
Diselesaikan di Simpang Gusti, 16 April 2015




*Foto-foto lain menyusul, jaringan lelet