Minggu, 03 Mei 2015

Jawaban Tuhan; Perihal Takdir

Rasanya sangat egois jika kali ini aku tidak turut berbahagia atas datangnya kabar ini, tapi terlalu munafik juga jika tidak mengakui bahwa aku agak sedikit entah haru atau bersedih karenanya. Cukup lama tiada saling berbagi kabar berita, tanah pijakan pun sama jauhnya, kali ini kabar itu datang tengah malam, bersama sepotong pesan pendek bertajuk undangan pernikahan dari sebuh nomor tak bernama.

“Tanggal 3 bulan 5 aa’ menikah Ay”

Aku masih setengah tidur waktu pesan itu masuk ke kotak masu hape bututku, kukira pesan itu masih merupakan bagian dari penggalan mimpiku semalam, ternyata tidak, memang benar dia mengabarkan pernikahannya.

Akhirnya hari itu datang. Hari dimana Tuhan memberikan jawaban atas segala pertanyaan perihal takdir yang telah lama ditunggu-tunggu selama bertahun-tahun tentang apa, bagaimana, dimana dan siapa yang akan menikah terlebih dahulu di antara dua orang yang pernah saling mengubur cinta karena pertentangan orang tua.

Tinggal bertetangga lama, berkawan sejak kanak-kanak, memadu cinta saat belia hingga menjadi sahabat saja menjadi pilihan yang paling tepat, mendewasa bersama, saling pasrah hingga berputus asa demi menjaga perasaan dari banyak nama.

Antara bahagia bercampur sedih, sebentar lagi aku akan melepas salah seorang sahabat paling karib dalam hidup. Walau tak melulu saling bertemu, tapi setiap waktu bertemu menjadi canda yang candu. Kenangan berputar timbul tenggelam dalam ingatan, ketika sama-sama tak ada uang namun  masih menyempatkan makan bersama, memakai baju yang sama, bernyanyi bersama dengan alunan gitar tua, membicarakan kekonyolan-kekonyolan masa muda, menertawakan harapan yang fana, membicarakan orang-orang tercinta setelah kita, dan lain sebagainya. Rasa kehilangan yang datang pada saat yang sebenarnya tidak kehilangan.

Berdebar keras dadaku memacu roda duaku menuju tempat hari besarmu, tidak ada kemampuan mataku bersitatap dengan ragamu, perlahan kedua bola mataku mengabut, berat seperti dirundung mendung yang nyaris mendatangkan hujan.

Hari ini aku berjalan disisimu lagi, tapi bukan sebagai pendampingmu. Hari ini tunai sudah tugasku, sebagai seorang adik, sebagai seorang sahabat, juga sebagai sang mantan.  Aku payungi kau yang mengenakan pakaian pengantinmu menggunakan tanganku sendiri, tak peduli dipandangi takjub sekaligus iba oleh orang-orang yang tahu cerita kita. Sebab ini bukan payung hitam penuh kesedihan, tapi dengan payung indah berwarna pelangi yang kumantrai dengan doa-doa dan pengharapanku untuk kebahagiaanmu. Hari ini lunas sudah segala janjiku pada diriku sendiri, aku antarkan kau tepat sampai di depan pelaminanmu menemui pengantin wanita yang terpantas telah kau pilih sebagai belahan jiwa.

Selamat menempuh hidup baru a'...

*Ssssttt... Nanti gantian, payungilah pengantin lelakiku nanti sampai ke hadapanku di pelaminan :)))"


Kamis, 16 April 2015

Catatan Hari Terakhir di Surabaya

Last day di Surabaya, oh tidak! Katakan liburan gratis ini belum akan segera berakhir! Plisss... *ngarep*

Oke, akhirnya liburan ini akan segera berakhir, hari terakhir di Surabaya dimulai dengan lagi-lagi bangun kepagian, males mandi (kayak biasa), sarapan nasi goreng (lagi) dan menikmati suasana hari minggu kota ini.  

Tugu Pahlawan sangat ramai di hari minggu pagi, ada pasar tumpah atau pasar tungging di sepanjang jalan. Namun sepertinya kurang oke untuk mampir dengan rombongan begini, sebab ada banyak orang yang jago magic disana, magic dalam artian tanda kutip, alias tukang hipnotis.

Jam di handphoneku menunjukkan pukul 8 WIB waktu kami check out dari hotel dan mulai memasukkan barang-barang kami ke dalam bagasi bus dan memulai perjalanan. Aku melewati banyak tempat yang hanya sering kulihat di televisi, kantor Ibu Risma, Walikota Surabaya yang aku kagumi, bangunan-bangunan tua Surabaya yang mirip dengan daerah pasar Sudimampir di Banjarmasin, jalan-jalan yang melintasi rel kereta api, dan banyak lagi. Tujuan pertama kami hari ini sebelum kembali Banjarmasin adalah Jembatan Suramadu, Kemudian Ke Pasar Turi dan Kebun Binatang Surabaya.

Jembatan Suramadu adalah jembatan sepanjang 5,8 km yang dibangun untuk menghubungkan pulau jawa dengan Madura, jembatan terpanjang yang pernah aku lewati. Entah aku yang katro atau memang melewati jembatan ini terasa menakjubkan, jalur yang biasanya mesti rempong ditempuh dengan naik kapal untuk menyebrang dan memakan waktu lebih lama, sekarang bisa dilewati hanya dengan hitungan menit dan tentu saja harus membayar tol terlebih dahulu. Perjalanan begini membuatku jadi banyak berpikir, aku berkhayal lagi seandainya dari Penajam dan Balikpapan bisa dihubungkan oleh jembatan begini, mungkin kami tidak perlu susah payah belama-lama mabuk darat ditambah mabuk laut untuk menyeberang ke kota Balikpapan. Semoga suatu hari nanti, aamiin…

Kami mampir sebentar di kios-kios yang berjualan pernak pernik ala Suramadu sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Pasar Turi Surabaya. Tidak banyak yang bisa diceritakan di Pasar Turi Surabaya, mungkin karena aku kurang bisa mneikmati pusat perbelanjaan yang seperti ini, hanya mengantar ibu saja memilah milih dan membeli beberapa potong baju muslim,  aku lebih suka pasar tumpah yang ada di pinggiran jalan, jiwaku memang traveler gembel banget, hehe

Selanjutnya tujuan terakhir kami adalah Kebun Binatang Surabaya (KBS). Aku dan adik-adikku jejingkrakan kegirangan. Berbagai macam hewan ada disana, dengan berbagai kondisi. Dari jenis ayam, burung-burungan, monyet, jerapah, unta, zebra, berbagai macam ikan, gajah dan ada si pongo alias orang utan. Ada satu orang utan yang paling tua, katanya berusia 12 tahun, sangai pintar, dia meminta es krim yang diakan Yoga dan Icha dan ini pertama kalinya aku melihat bekantan dan unta di depan mataku sendiri, lucu hihii

Masuk mesti pake beginian

Terlalu eksis, icon Surabayanya kepotong di belakang


Capeks keliling
Ada Pongo di belakang

Selfie di depan Gajah kecil yang malang
Senangnya karena di Banjarmasin tidak ada kebun binatang yang lengkap seperti ini, sedihnya karena kebun binatang sebesar ini kurang terawat, ada banyak kandang yang sudah kosong dan beberapa hewan yang tidak diberikan habitat yang seharusnya, seperti gajah yang kakinya di rantai di dalam kandang, hiks kesian L

Selesai petualangan di kebun binatang artinya kami harus segera berangkat ke bandara Juanda Surabaya. Konon kabarnya Bandara Juanda cukup padat pada hari minggu begini, jadi kami harus berangkat kesana lebih awal untuk memasukkan bagasi kami yang seabrek. Kalau boleh memberi kesan, waktu yang singkat di Bali lebih bikin nagih ketimbang 2 hari di Surabaya.


Kami akan pulang ke Banjarmasin menggunakan penerbangan Lion Air Penerbangan terakhir pukul 19.15 WIB. Kalian tahu apa yang paling kurindukan dari Banjarmasin? Ada seseorang yang menungguku disana, seseorang yang membekali sweater yang selalu melilit di leherku ini karena dia sangat tahu aku gampang masuk angin, yang bela-belain puluhan kilometer datang untuk turut menjemputku di Bandara bersama sahabatku, J

Banjarmasin, I’m home…



*Bandara Juanda, 5 April 2015
Ditulis berantakan waktu menunggu keberangkatan
Diselesaikan di Simpang Gusti, 16 April 2015




*Foto-foto lain menyusul, jaringan lelet

Catatan Perjalanan Religi dari Surabaya

Semalam setelah dengan hanya kurang dari 40 menit aku sudah berada di Bandara International Juanda Surabaya lagi, karena sudah kelelahan kami tidak kemana-kemana lagi setelah itu, langsung menuju hotel yang berada di daerah Pasar Besar yang sangat dekat dengan Tugu pahlawan dan hanya akan beristirahat di Surabaya. Makan malam pun sudah dibagi masing-masing dalam box. Oh BIG NO! Kembalikan aku ke Baliiiiii (--“) *masih gagal mupon*

Oya, semalam dari bandara guide cakep favorit kami, Mas Han ternyata yang menjemput kami dengan bus pariwisata.Tapi bus yang datang agak kecil dari bus yang membawa kami berkeliling Bali, bus ini nyaris nggak muat mengangkut kami semua beserta koper yang sudah beranak pinak. Syukurnya di belakang bus pariwisata kami Pak Thomas sudah menyiapkan satu mobil untuk mengangkut barang-barang kami.

Setelah kemarin jadi anak gahool Bali, di Surabaya kebalikannya, selama dua hari ke depan kami akan berwisata religi mengunjungi makam-makam Wali Songo, diantaranya Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim, Makam Sunan Giri dan makam Sunan Ampel. Selain itu kami juga akan mengunjungi jembatan Suramadu yang fenomenal menghubungkan Surabaya dan Madura, Kebun Binatang Surabaya dan berwisata belanja ke pusat grosir di Surabaya.

Seperti biasa, semalam juga tidak tidur nyenyak, bangun kepagian dan tiba-tiba aja nangis, entahlah… Mungkin karena bawaan syndrome haid jadi agak emosi dan cengeng. Walaupun tidak mengurangi semangatku tapi memang keliatan agak pucat, sampai ditanya Mas Han “Kamu sakit kah dek kok lemes gitu?” hehe

Pagi-pagi aku dan yang lain sarapan bareng di restoran hotel, barusan mood makan karena menunya nasi goreng. Di depan hotel sudah mulai banyak penjual kaos khas Surabaya yang menjajakan dagangannya, lagi-lagi aku kepikiran, di hotel-hotel Banjarmasin nggak ada yang beginian nih, nyari oleh-oleh khas Banjarmasin juga ribet, nggak ada satu tempat khusus yang khas menjual pernak-pernik berbau Banjarmasin, tokonya mencar-mencar, ada sih di mall, tapi ya gitu, harga mall. Jadi ingat dulu ngajak teman-teman dari UNESA waktu Mathematics Competition Revolution nyari oleh-oleh di dua toko seberang Ramayana Lama, lumayan lengkap, tapi sekarang salah satunya udah tutup, entah karena pindah atau memang tutup karena kurang pasar.

Selain mas-mas yang menjajakan kaos, di depan hotel juga ada tukang roti, kuenya enak-enak, soalnya tadi pagi-pagi banget papap beli kue itu karena sarapan belum siap. Ada juga tukang becak berjejer, salah satu tukang becaknya tidur berselimut sarung sambil menunggu penumpang, hiks. Aku bersyukur banget karena ayahku pagi-pagi pukul setengah 7 pagi begitu setap hari masih berada di rumah, masih sempat sarapan bareng keluarga, nggak perlu kerja panas-panasan, genjot becak sampai bungkuk, kalau malam ayah masih bisa shalat berjamaah di mesjid, nonton tv bareng keluarga dan menghabiskan belasan juta demi liburan sekeluarga, terimakasih banyak Tuhan untuk segala keberuntungan ini, Kau hadiahkan kami seorang ayah seperti beliau ini, walaupun bawel. Dan Ya Allah, sayangilah ayah-ayah di dunia semacam tukang becak ini, jika dia belum sempat bahagia di dunia menikmati jerih payahnya, cukupkanlah dan bahagiakan mereka di akhirat nanti, aamiin. Semoga banyak rezeki pak…

Selesai sarapan kami langsung menuju destinasi wisata religi kami yang pertama, makam Sunan Maulana Malik Ibrahim. Disini sangat nyaman, karena parkir bus tidak terlalu jauh. Mungkin karena tanggal merah jadi sangat banyak orang yang datang berziarah. Sayangnya karena aku sedang haid akhirnya aku mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam daerah pemakaman. Aku kurang tahu persis apakah boleh atau tidak untuk masuk ke dalam, namun karena Ibu Camat melarang aku dan calon menantu beliau yang juga haid untuk masuk ke dalam, jadi kami hanya melihat dari luar saja.





Cuma bisa nunggu di luar sama calon menantunya Ibu Camat
Akunya Manaa??

Emak & Ibu Camat

 Tidak terlalu lama berada disana, kami pun langsung menuju ke Makam Sunan Giri, kami tidak dapat menggunakan bus pariwisata untuk langsung sampai ke lokasi, dari parkiran bus kami dapat memilih menggunakan delman ataupun ojek. Menggunakan ojek dikenakan biaya 6 ribu untuk berboncengan bertiga, dan menggunakan delman 5 ribu/orang, satu kali berangkat menggunakan delman dapat mengangkut 3-4 orang. Kami memilih naik delman karena belum pernah mengendarainya, Ibu baweel banget karena nggak tega liat kudanya, si Icha excited banget, aku dan papap sibuk menenangkan Ibu, dan tentu saja si Yoga yang paling cool  nyantai banget duduk di depan. Btw, kudanya bau :3

Masuk ke area makam Sunan Giri kami harus menaiki tangga yang cukup tinggi, seperti naik ke Borobudur, tapi bedanya tangganya besar dan cukup nyaman untuk dinaiki. Seperti layaknya tempat wisata religi lainnya banyak pengemis yang menyambut kedatangan kami, ah sedih ah.
Lagi-lagi aku cuma bisa sampai depan makam, tidak bisa masuk lebih dalam. Nggak enak ah, kan makam suci, jadi gimana gitu mau ngeyel masuk. Aku dan Selly duduk-duduk di bawah pohon di depan gerbang komplek makam, ada banyak sekali makam, namun disana tidak boleh memotret. Namun dari informasi yang kudapat dari Ibu, makam Sunan Giri terletak di dalam ruangan berdinding batu, agak gelap dan pengap. Aku makin penasaran, aku selalu berhalusinasi bagaimana kehidupan di zaman lampau setiap mengunjungi tempat-tempat bersejarah.
Turun tangga terasa lebih mudah, dan marketing di tempat ini keren, pintu keluar dibuat memutar melewati areal tempat kios-kios yang menjual berbagai pernak-pernik. Aku kepikiran lagi, kayaknya kalau naiknya pakai eskalator enak kali ya? Aku membayangkan bagaimana jika ada orang yang berkursi roda atau orang yang lanjut usia yang ingin berziarah jika harus menaiki tangga yang begitu tinggi dan banyak.

Kembali ke parkiran bus kami lebih memilih naik ojek, karena lebih cepat dan nggak perlu bikin ibu histeris lagi karena kasihan sama kuda :D

Di parkiran bus kami masih harus menunggu anggota rombongan yang lain terkumpul. Di tempat kami bediri ada orang berjualan buku tentang wali songo, aku sering sekali membaca ceritanya sewaktu kecil, sangat beda dengan dua adikku yang hidup di zaman kekinian, lebih banyak main gadget ketimbang baca buku. Aku menyarankan kepada si kecil Icha untuk membeli satu buku tentang wali songo, bukunya lumayan bagus untuk anak kecil karena berwarna dan harganya cuma 10ribu, zaman aku kecil nih ya susah mau beli buku harga 500 perak aja mesti nunggu weekend dulu baru dibelikan papap 2 biji, akhinya Icha mau membeli satu dan aku harap juga mau membacanya agar mengerti bagaimana sejarah perkembangan Islam di pulau jawa, biar nggak akrab sama sejarah Jodha Akbar aja :D

Kalau Icha orangnya gampang penasaran, beda dengan Yoga, adikku yang satu itu tukang makan, apapun yang masuk ke perutnya dijamin tidak akan bertahan lama, dia membeli Pop Mie dan Brem, ada juga yang menjajakan Wingko Babat, aku sering khawatir membeli makanan di tempat-tempat seperti ini, karena takut expired, syukurnya aku segera melihat tanggal expirednya yang masih lama.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Makam Sunan Ampel. Sama seperti waktu di makam Sunan Giri, parkiran bus dan lokasi lumayan jauh, dari parkiran bus menuju makam Sunan Ampel kami harus menyebrang jalan raya dan berjalan lumayan lah bikin keringatan apalagi cuaca Surabaya yang terik. Sesampainya di area makam aku menunggu di luar karena rombongan menunaikan shalat zuhur, aku juga tidak bisa masuk ke area makam seperti pada makam-makam sunan sebelumnya.

Aku sangat tidak nyaman karena kakiku lecet kena sepatu, namun rasa sakitnya kualihkan dengan mencermati setiap benda-benda yang dijual di setiap kios yang berada di sepanjang jalan komplek makam Sunan Ampel menuju kembali ke parkiran bus. Murah-murah bangeet, mukena kain parasut dijual dengan harga 18ribu, batik-batik pria dengan kualitas lumayan dijual dengan harga 25ribu, tidak ketinggalan juga kaos-kaos, makanan, ada juga mainan masak-masakan anak-anak seperti wajan, panci, sampai timbangan mini, Icha membeli satu timbangan mini, ya ampun lucu banget. Aku dan Ibuku mampir sebentar membeli batik, dompet bertulisan Sunan Ampel cantik hanya 10ribu, dodol garut yang lebih murah ketimbang di Bandung dulu dan oleh-oleh lain untuk keluarga. Karena sudah tidak tahan kaki lecet, aku membeli sandal jepit murah seharga 15ribu dengan model yang lumayan oke, akhirnya bisa berjalan dengan lega.

Setelah puas berkeliling berwisata religi, hari sudah sore ketika kami sampai di parkiran Jembatan Merah Plaza (JMP) yang katanya pusat grosir dan murah. Beberapa anggota rombongan tidak ikut masuk karena kelelahan dan mungkin kurang tertarik. Tapi karena aku pensaran aku masuk dengan kedua adikku. Ternyata di dalamnya mirip mall, lumayan murah walau nggak murah-murah banget, barangnya ya pasaran, banyak yang sama, namanya juga pusat grosir. Cuma keliling-keliling dan nggak beli apa-apa, yang ada malah Icha minta gendong kembali ke parkiran. Kakak encok dek!

Setelah makan malam kami kembali lebih cepat ke hotel, kebetulah hari itu gerhana bulan, jadi hari gelap lebih cepat dari biasanya. Awalnya rencananya, malam aku mau keluar menikmati malam terakhir di kota Surabaya sama Mas Han dan Yoga, tapi sepertinya aku dah nggak kuat karena masuk angin berat, punggungku sakit, pusing, dan penglihatan berputar-putar, akhirnya aku menyerah aku hanya menghabiskan malam dengan menulis catatan perjalanan ini dan tepar di tempat tidur. Sayangnya perjalanan hari ini tidak terlalu banyak foto.


Oya, aku baru ingat, ada yang berbeda dari perjalanan ini adalah aku berangkat dalam keadaan sudah menyandang status sarjana pendidikan J)



*Hotel Pasar Besar Surabaya, 4 April 2015
Waktu sakit


Catatan Perjalanan Dari Bali 2nd Day; Menjadi Minoritas di Negeri Sendiri

Kebiasaan buruk setiap tidur pindah kota adalah selalu bangun kepagian, pukul 4 pagi! Padahal badan rasanya masih lumayan remuk sisa perjalanan kemarin. Walaupun bangun kepagian tetap aja mandinya kesiangan, kemarin aja dari Banjarmasin berangkat ke Bali tanpa mandi pagi. Maafkan adiks bang, memang adiks ini travellingannya ala koper Ibu-Ibu PNS, tapi jiwa adiks tetaplah traveler gembel, buktinya adiks jarang mandi dan kere, muehehehe

Aku sudah on fire dandan rapi dan tentunya mandi untuk melanjutkan penjelajahan hari ini sebelum menuju Surabaya. Rencananya hari ini kami akan ke Tanah Lot, Bedugul dan wisata belanja ke Joger.

Betewe hari ini hari Jum’at dan tanggal merah karena umat kristiani sedang memperingati hari Paskah. Kebetulan menurut masyarakat Bali hari ini sedang hari baik, artinya juga akan ada perayaan bulan purnama atau ulang tahun banyak Pura di Bali. Hari yang amazing, karena hari Jum’at juga merupakan hari besar umat muslim.

Di Bali memang sangat mempercayai hari-hari baik, dalam melakukan apapun mereka harus menyesuaikan dengan hari baik, seperti hari baik untuk pernikahan, hari baik untuk pemakaman, hari baik untuk ngaben, dan sebagainya. Maka tak heran ketika ada hari baik akan ada banyak pernikahan atau pemakaman, seperti musiman.

Bli Ketut juga menceritakan bahwa ketika ada orang yang meninggal di Bali, untuk melakukan pemakaman atau ngaben harus menunggu hari baik. Sehingga selama menunggu hari baik datang, maka  jenazah akan di semayamkan di rumah duka dan masyarakat bergantian untuk berjaga malam. Selain itu, kata Bli Ketut di Bali kematian tidak boleh ditangisi, sebab kematian merupakan kebahagiaan di Bali karena artinya yang telah meninggal sudah menyelesaikan reinkarnasinya di dunia. Masyarakat Bali percaya bahwa makhluk yang selama hidupnya berbuat buruk akan bereinkarnasi menjadi wujud makhluk yang lebih rendah dari pada dirinya yang sebelumnya.
Sesampai di destinasi kami yang pertama yaitu Tanah Lot, kami dapat melihat dua buah Pura yang berada di atas bongkahan batu atau tebing yang tinggi di pinggir laut. Tidak terlalu sulit untuk mencapai kesana, hanya saja kami perlu berjalan beberapa ratus meter dari parkiran bus. Di kiri kanan jalan banyak pusat perbelanjaan yang bikin mata melek.

Saat kami datang petugas sedang mengumumkan lewat pengeras suara agar kami berhati-hati karena saat itu air sedang pasang tinggi, aku hanya sampai pinggirannya saja walaupun nyali jahilku sangat ingin agak ke tengah, tapi karena bareng emak yang parnoan, akhinya aku mengurungkan niatku dari pada diomelin emak. Akhirnya aku cuma menikmati pemandangan dan foto-foto dari atas.



Air Sedang Pasang

Nggak Dibolehin Emak Jauh-Jauh

Beruntung karena hari itu akan ada upacara pemujaan dewa-dewa penjaga laut di Pura Tanah Lot, artinya aku akan menyaksikan secara langsung bagaimana suasana sakralnya yang katanya hanya dilaksanakan setiap 210 hari sekali. Beberapa saat kemudian mulai banyak orang bepakaian putih berdatangan, pengunjung yang berada di bawah dimohon untuk naik karena pembatas akan di pasang ketika upacara adat akan di mulai. Mendengar musik khas bali di bunyikan aku penasaran untuk menyaksikannya dari dekat. Jangankan bule-bule asing, aku yang orang dalam negeri sendiri saja terkagum-kagum menyaksikan orang-orang yang datang dari balita, remaja  sampai orang dewasa mengenakan pakaian putih, sarung khas bali, yang wanita rambut digulung rapi dan membawa berbagai sesajen yang sangat banyak jumlahnya. Kata Bli Ketut sesajen yang mereka bawa detailnya bisa sampai ribuan dengan berbagai macam makna yang terkandung, sekali perasaan besar begitu bisa menghabiskan dana hingga 1,5 M. Wow, untuk beribadah mereka sangat total! Aku saja terkadang untuk membeli mukena harus menawar dulu harganya, malu! Maafkan aku ya Allah! Karena pintu masuk sangat padat, aku memutar lewat samping agar bisa kembali ke parkiran bus. Dan tentunya sebelum kembali ke parkiran wajib belanja dulu dengan uang seadanya :P

Salah Satu Tempat yang diberi Sesajen

Persiapan Upacara

Mulai Banyak Yang Berdatangan

Prosesi Upacara Dimulai
Kami melanjutkan perjalanan ke Bedugul, karena merupakan salah satu wisata daerah pegunungan jalanan menuju kesana mengerikan karena dataran tinggi yang berbelok-belok, aku sampai menutup  mata karena takut melihat bus yang menukik di tikungan tajam, sebelumnya  kami singgah untuk makan siang tak jauh dari Bedugul.  Aku sangat tidak nyaman karena hari itu aku mendadak haid, kepalaku pusing, perut kram dan kaki pegel-pegel. Lagi-lagi aku tidak mood makan, tapi anggur hitam yang dijual tak jauh dari restoran membuatku sedikit berselera, hanya 7ribu setengah kilo, imut kecil-kecil, segar pula.

Memasuki daerah objek wisata yang katanya berada di ketinggian sekitar 1.239 meter di atas permukaan laut ini terasa sangat sejuk, indah sekali melihat danau sejauh mata memandang. Daerah ini merupakan daerah yang dihuni warga Bali atau pendatang yang beragama Islam. Rumah makan disini pun berlabel, seperti Rumah makan Muslim Hj. Marfu’ah yang aku lewati. Dan aku jadi kepikiran omongan Kak Sandy, makanan yang kami makan sebelumnya disembelih dengan benar nggak ya? *hayooolooohhh

Di daerah ini pula kata Bli Ketut ada fenomena ajaib kol bebuah jagung, dan kami semua yang sudah sangat excited berhasil dipermainkan beliau, ternyata hanya sebuah patung atau monumen yang menandakan bahwa di daerah itu terkenal dengan kol dan jagungnya :D

Sewaktu kami sampai ke Bedugul, jalanan agak sedikit macet karena di sebelah kiri jalan ada sebuah mesjid dan umat muslim baru saja menyelesaikan shalat Jum’at, OMG aku baru sadar kalau selama dua hari di Bali ini pertama kalinya aku melihat mesjid, dan selama 2 hari pula rombongan harus melakukan shalat Qashar ataupun Jamak. Baru berasa guys sepanjang hidup menjadi minoritas di negara sediri, menjadi muslim di tengah mayoritas Hindu, menjadi Banjar setengah Jawa yang terdampar di Bali, hal-hal seperti inilah yang menjadikan hidup lebih toleransi di negara yang serba heterogen ini.

Sepanjang jalan menuju lokasi wisata yang akan kami kunjungi Bli Ketut yang super semangat ini bercerita banyak tentang kebudayaan Bali, seperti tentang macam-macam tipe desa adat, tentang macam-macam sekte agama Hindu yang pernah ada di masyarakat Bali, salah satu yang paling kuingat adalah ketika Bli Ketut mengatakan bahwa masyarakat Bali sangat terikat dengan hukum adat ketimbang hukum yang berlaku di Indonesia dan hukum-hukum lainnya. Misal seperti surga dan neraka, nah itu kan belum real, karena kita manusia belum pernah ada yang mencicipinya langsung, kalau hukum Indonesia yaa you know laah gimana, tapi kalau hukum adat masyarakat Bali sangat detail dan hukumannya real, contohnya saja ketika menebang pohon tanpa seizin tetua adat, bersiaplah karena hukum adat akan segera dilaksanakan.  Tiba-tiba “hukuman yang real” bercetak tebal dalam kepalaku. *Mikir keras*

Bedugul dan Tanah Lot hampir mirip karena merupakan Pura, bedanya Bedugul berada di pinggir danau. Aku sempat kehujanan ketika baru beberapa menit sampai, karena memang daerah ini berhawa dingin, sering berkabut dan merupakan daerah rawan hujan.  Datang ke Bedugul seperti mendapatkan tripel combo, karena selain pemandangannya yang indah, datang ke bedugul kita juga dapat sekaligus menikmati Danau Beratan, Pura Ulun Danu, dan katanya juga ada Kebun Raya Eka Bali, namun sayangnya karena waktu yang terbatas, aku belum sempat menjelajahi semuanya.




Masih di Daerah Pintu Masuk

Part. Lengkap Kingdom Luthfi


Sosweeet

Masih Mendung

Akhirnya aku berada di tempat yang cuma bisa aku lihat di uang kertas lima puluh ribu!

Tidak ada puasnya berada disini, masih ingin lebih lama lagi, tapi karena rempong bareng rombongan akhirnya cuma berjanji dalam hati sendiri akan lebih rajin nabung dan liburan ke Bali sepuasnya. Setelah itu kami langsung menuju ke Bandara International I Gusti Ngurah Rai untuk menuju ke Surabaya, Jarak dari Bedugul ke bandara sekitar 70 Km atau dapat ditempuh dengan kurang lebih 2,5 jam.  Namun seperti rencana semula kami akan mampir dulu di Joger.


Siapa yang tidak kenal Joger? Pusat perbelanjaan untuk anak muda dengan pernak pernik dengan berbagai tulisan lucu, sayangnya tidak ada yang menarik hatiku disitu, cuma mengantar ibu dan adik-adik belanja saja.

Sesampainya di Joger aku mengalami mabuk darat berat, akrena memang kondisi yang kurang fit karena sedang haid hari pertama, sampai di Joger bukannya masuk, aku malah lari ke toilet, muntah!
Saking mabuk beratnya tidak sempat foto-foto, Cuma fokus makan pop mie dan jus alpukat doang :’D

Berat rasanya melangkahkan kaki ke Bandara I Gusti Ngurah Rai, aku belum puas! Aku belum menikmati suasana jalanan Bali ketika malam hari, belum puas ini, belum puas itu. Andai mungkin lebih lama lagi, tapi sayangnya tidak karena bersama rombongan ini.

Bandara I Gusti Ngurah Rai
Aku sendiri lebih sering melakukan perjalanan bersama keluarga ket
imbang sendirian atau dengan teman-teman, alasannya jelas karena tabungan yang selalu bobol dan zaman jadi mahasiswa FKIP dispiplin dan sibuknya luar biasa. Namun pengalaman liburan bersama rombongan begini mengajarkanku untuk lebih getol menabung agar bisa puas liburan sendirian atau bersama teman-teman, karena apa? Liburan bareng ibu-ibu PNS rempong cyiiin, capek dikit ngambek bawaannya, dan berisik banget kalo urusan belanja. Selain itu, travelling menggunakan travel kurang puas, karena waktu terbatas untuk menikmati setiap jengkal tempat yang dikunjungi. oh God, I really love Bali, someday I will be back there, yeaah! I promise!

*Pamer foto selfie dolooo
  





Pliss jangan tanya ini bukan pacar baru, tapi sodara (--")


*ditulis saat menuju penerbangan ke Surabaya, 3 April 2015

di selesaikan di Simpang Gusti, 14 April 2015

Rabu, 15 April 2015

Catatan Perjalanan Dari Bali First Day; Love at First Sight

Ini adalah kali pertama aku pergi  ke Bali, akhirnya aku menginjakkan kakiku di pulau yang keindahannya hanya sering mampir di telinga dan menyapaku lewat gambar atau tulisan selama ini. Rencananya aku akan melakukan perjalanan ke Bali dan Surabaya dalam rangka family day yang rutin dilaksanakan setiap tahun oleh keluarga besar kantor Kecamatan Haruai tempat papap bekerja. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, aku berangkat bersama rombongan menggunakan jasa Trans Borneo Travel, travel langganan kantor yang oke punya. Aku akan menghabiskan satu seperempat hari untuk berkeliling dan menginap semalaman di Bali, kemudian 2 hari berikutnya aku akan berada di Surabaya.

Aku masih sempoyongan ketika sampai di bandara International Juanda Surabaya untuk transit sebelum melanjutkan penerbangan ke Denpasar, selain diserang maag akibat perut yang keroncongan belum sempat sarapan karena penerbangan pertama yang pagi banget, di tambah lagi jet lag dan terdampar di bandara Juanda akibat pesawat yang delay lebih lama satu jam dari yang seharusnya. Syukurnya sweater bekal dari pacar yang melilit di leherku cukup menolong mengurangi pegel di leher karena masuk angin.



Salah satu sudut cantik Bandara International Juanda Surabaya


Tedampar bareng karena pesawat delay


Kurang lebih setengah jam pesawat yang mengantarkanku ke pulau dewata mengawang-awang di udara, beruntungnya cuaca sedang sangat baik untuk melakukan penerbangan, jadi tidak terlalu memacu adrenalin, yap ini rahasianya; aku fobia ketinggian, jantungku berdegup cepat saat mataku sudah tidak menangkap daratan, oke fine aku alay, tapi itu kenyataannya!



Otewe Denpasar Bali


Kedatanganku di bandara International I Gusti Ngurah Rai Denpasar Bali disambut panas yang sangat menyengat, aku memayungkan sweater yang melilit di leherku, sweater yang sangat serbaguna. Panas yang lebih menyengat dari panas Banjarmasin yang sering aku keluhkan, wajar saja kalau ternyata bule-bule asing itu gemar berpakaian mini disini, aku saja rasanya pengen dasteran aja biar sejuk, sayangnya tidak mungkin. Pemadangan pertama; bule, kedua; bule, seterusnya bule! Bule dimana-dimana! Aku berasa sedang berada di negara asing!



Memasuki pintu bandara kami disambut musik khas bali, Icha adikku yang masih kelas 5 SD terkagum-kagum menyaksikan, aku sampai berkhayal seandainya bisa disambut dengan musik panting di bandara mini milik kami di Banjarbaru, yang entahlah itu.

Adem banget nyamperin kuping



Saking jet lagnya aku sampai salah mengantri untuk mengambil bagasi, karena koperku tidak ada pita kuning tanda rombongan, tadi subuh aku terlambat memasukkan bagasi di bandara Syamsudinnoor.
Lucunya malah kami baru sadar kalau ternyata Pak Thomas sang empunya travel yang kebetulan hari itu mengguide sendiri rombongan kami malah ketinggalan pesawat di bandara Juanda Surabaya, dan kami seperti anak hilang satu rombongan, untungnya tidak perlu menunggu terlalu lama bus pariwisata lengkap dengan Bli Ketut, guide yang akan menemani kami selama di Bali sudah menanti kami di depan Bandara.


Sejak dari bandara Syamsudinnor aku bertanya-tanya kemana mas-mas kecil imut guide langganan yang mengantar rombongan kami biasanya kok nggak keliatan, biasanya dia yang paling sibuk ngurus ini itu dari hal kecil sampai hal-hal besar. Mas Handoko, guide imut yang cekatan banget. Kemaren mbak Novi sempet bilang  Mas Han yang bakalan ngurusin rombongan ini sampai ke Surabaya. Kupikir Mas Han batal ikut, padahal kangen uey.


Karena penerbangan yang delay, akhirnya dua agenda kami di cancel karena sampai sudah terlalu siang di Bali, padahal itu adalah destinasi yang paling aku tunggu, pantai Pandawa dan Tanjung Benua yang sedang ramai ditolak reklamasi berkedok revitalisasinya. 


Dari bandara kami langsung menuju tempat makan siang di Hawaii Bali menggunakan bus pariwisata, selama perjalanan guide kami Bli Ketut bercerita banyak ini itu tentang Bali diselingi candaan yang garing namun cukup menghibur, tidak membosankan, guide yang cerdas, beda banget dengan guide kami waktu di Jakarta tahun lalu.

Lagi Parkir Depan Hawaii

Aku excited banget melongok ke kiri dan ke kanan dari jendela bus, aku mencatat dengan baik dalam ingatanku apa yang disampaikan Bli Ketut. Memang benar, mungkin pantai-pantai dan pariwisata di Bali sama saja dengan pariwisata di kota-kota lain, hanya saja di kota-kota lain tidak difasilitasi dan dikelola sebaik di Bali, sebab Bali bukan pulau yang mandiri, Bali tidak memiliki tambang batu bara, kelapa sawit, batu akik, listrik saja Bali mendapat pasokan dari pulau Jawa, oleh karena itu lebih dari 50% perekonomian Bali bergantung pada pariwisatanya. Tidak ada pula gedung tinggi di Bali, lalu mengapa Bali istimewa? Karena menginjak tanah Bali terasa sangat sakral, adat istiadatnya masih terasa sangat kental. Hal ini terlihat jelas dari setiap bangunan yang tingginya tidak melebihi pohon kelapa, setiap bangunan yang memiliki ciri khas pura di Bali, guide yang menggunakan sarung dan ikat kepala Bali, walaupun begitu banyak orang asing yang datang ke Bali namun kebudayaan mereka tetap kuat. Ah, aku akui aku iri, tanah kelahiranku sendiri sudah terlalu modern dan kekinian hingga hanya beberapa peradaban yang tersisa.


Sesampainya di restoran yang dimaksud, aku makan dengan kalap, padahal sayurnya kurang oke karena lidah kurang cocok dengan bumbu masakan Bali. Sehabis makan biasalaah belanja-belanja dulu dan karena kere akhirnya aku cuma beli satu kain Bali warna hijau dan lulur Bali! *kesiaan
 Dari tempat kami makan siang kami melanjutkan perjalanan ke pantai yang sudah tidak asing lagi, Pantai Kuta! Yeaaay! Kita anak pantai tanteeee!! Pantai Kuta ramai, tapi tidak seramai biasanya kata Bli Ketut, mungkin karena rencana hukuman mati untuk duo Bali Nine dari Autralia, karena sebagian besar bule yang datang ke Bali adalah bule Australia. Bagi warga negara Australia berlibur di negaranya sendiri jauh lebih mahal ketimbang mereka berwisata ke Bali, oleh karena itu banyak bule Australia yang datang ke Bali, ada yang datang berkali-kali, bahkan ada yang menetap dan menikah dengan orang Bali.


Di pantai Kuta masih terlalu panas, aku memakai kacamataku untuk menghindari silau yang kebangetan. Karena malas bergabung dengan ibu-ibu, aku lebih memilih bermain dengan kedua adikku, Yoga dan Icha. Dari foto-foto, main pasir, mengumpulkan pecahan karang, sampai menulis-nulis nama di pasir ala anak alay. Beberapa kali bule-bule yang lewat menyapaku, mungkin mereka merasa aneh atau apa melihat kostumku yang berjilbab tapi pecicilan di pinggir pantai. Panasss! Tapi happy! Wajahku mengkilap eksotis karena kepanasan, but whatever! Akkkkkkkk!!

Sejauh Mata Memandang

 Fokus Liatin Karang

 Luthfia Junior Ngeksis

 Bertiga yang Tumben Akur 

Mengalaykan Diri

Setelah kurang lebih 1,5 jam bermain-main aku dan adik-adikku meninggalkan bibir pantai walaupun masih sangat senang bermain-main disana, aku menyeruput minuman yang dibeli ibuku, dan membeli kerupuk tempe dari tukang asongan yang menjajakan dagangannya. Sebenarnya sedih sih, tuan rumah di negara sendiri malah cuma jadi tukang pijat refleksi dan penjual asongan di pantai tempat orang-orang asing itu bermain-main. Tukang pijat refleksinya malah ada yang berusia sampai 60 tahun, melayani bule-bule asing itu demi beberapa puluh ribu. Hey guys, keindahan ini milik kita :’))


Di perjalanan menuju hotel kami mampir ke pusat perbelanjaan yang cukup besar, Kresna. Sedikit menyesal karena tidak belanja banyak di Hawaii, karena harganya sedikit agak mahal. Entah karena lelah atau saking kebanyakan barangnya aku malah bingung mau beli apa, akhirnya cuma membeli satu handbag warna pink, iya cuma satu!!


Hari itu sudah sangat lelah karena melakukan perjalanan panjang, sesampainya di hotel Bagasta kami sudah disambut makan malam yang sebenarnya enak tapi pedasnya kebangetan dan akhirnya lagi-lagi aku tidak menghabiskan makananku. Aku dan Yoga adikku mendapat kamar di lantai dua, hotelnya lumayan oke dengan dua kasur televisi besar dan AC.


Hari pertama berakhir di kasur hotel yang empuk, menyempatkan on the phone sama pacar sambil ngakak menyaksikan Yoga yang sehabis mandi buru-buru menggunakan masker wajah karena habis kepanasan seharian. Oya, baru sadar, aku melewatkan siaran live  [Masih] Dunia Lain karena kelelahan.


Ah, penasaran banget dengan petualangan (bareng ibu-ibu PNS rempong) selanjutnya besok! Hari pertama di Bali? Duh, sepertinya aku jatuh cinta, banget!




*Ditulis berantakan di Bali, 2 April 2015
Diselesaikan di perpustakaan pusat Unlam 14 April 2015
12.47 wita



Senin, 23 Maret 2015

Cinta yang Belum Merdeka


Sesungguhnya di masa yang katanya sudah merdeka ini kita sebagai kaum pecinta belum merdeka sama sekali. Sebab apa? Kebebasan untuk jatuh cinta masih dikebiri dan dikendalikan oleh perilaku, kebiasaan dan pola pikir masyarakat yang masih mengkotak-kotakkan suatu hubungan berdasarkan kasta-kasta yang komposisinya terdiri dari gengsi dan pertimbangan yang lebih banyak kurang logis dalam mengukur pantas tidak pantasnya seseorang berdampingan dengannya seseorang yang lainnya.

Senin, 16 Maret 2015

Semanis Pancake



Aku duduk-duduk di tempat ini tak cuma sesekali, jauh sebelum sering datang dengannya aku lebih sering duduk-duduk sendirian dengan segelas lemon tea sambil menulis, membaca kamus, berselancar di dunia maya dengan wifi gratis atau sekedar ngopi sambil ngobrol ngalor ngidul menghabiskan malam mingguan dan nonton bola dengan kawan-kawan.

Tapi bukan berarti sembarangan orang yang kubawa ke tempat ini, jika kali ini aku ada dengannya di sofa merah ini maka jelas karena dia bukan orang sembarangan, dia istimewa, seisitimewa tempat ini.

Dia selalu datang ke tempat ini ketika berkunjung ke kotaku,